Diduga Malpraktik, Bayi 3 Bulan Meninggal Setelah Diberi Imunisasi 4 Varian Sekaligus

waktu baca 2 menit
Foto: Seorang bayi laki-laki berusia tiga bulan di Sukabumi, Muhammad Kenzie Arifin, meninggal dunia pada 11 Juni 2024 setelah menerima empat jenis imunisasi sekaligus di Puskesmas Sukakarya tanpa persetujuan orang tua. Sang ibu, Deara Wulandari, membawa Kenzie ke Puskesmas untuk mengejar imunisasi yang tertunda satu bulan. Setelah menerima suntikan BCG dan DPT serta dua obat tetes mulut, Kenzie mengalami kejang dan tidak mau menyusu. Meskipun segera dirujuk ke rumah sakit, nyawa Kenzie tidak dapat diselamatkan. Keluarga menduga terjadi malpraktik dan menuntut investigasi mendalam atas kejadian ini. (Aswadin)
Home > Berita Pilihan > Diduga Malpraktik, Bayi 3 Bulan Meninggal Setelah Diberi Imunisasi 4 Varian Sekaligus

Diduga Malpraktik, Bayi 3 Bulan Meninggal Setelah Diberi Imunisasi 4 Varian Sekaligus

Kematian Muhammad Kenzie Arifin diduga akibat pemberian imunisasi tanpa persetujuan orang tua di Puskesmas Sukakarya

Sulawesitoday – Seorang bayi laki-laki berusia tiga bulan, Muhammad Kenzie Arifin, meninggal dunia pada 11 Juni 2024, setelah menerima empat jenis imunisasi sekaligus di Puskesmas Sukakarya, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi.

Orang tua bayi tersebut menganggap kejadian ini sebagai malpraktik karena imunisasi diberikan tanpa persetujuan mereka.

Kejadian di Puskesmas

Deara Wulandari (27), ibu Kenzie, membawa anaknya ke Puskesmas Sukakarya untuk mengejar imunisasi yang tertunda satu bulan.

Bidan di Puskesmas memberikan suntikan BCG dan DPT, serta dua jenis obat tetes mulut, tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan dari Deara.

“Saya tidak diberi informasi tentang pemberian empat jenis imunisasi tersebut. Kalau saya tahu, tentu saya akan meminta penjelasan lebih dulu,” ujar Deara.

Gejala Pasca-Imunisasi

Setelah pulang dari Puskesmas sekitar pukul 11.00 WIB, Deara memberikan parasetamol kepada Kenzie sesuai anjuran bidan.

Namun, tiga jam kemudian, Kenzie mulai menangis keras, mengalami kejang, dan tidak mau menyusu. Panik dengan kondisi putranya, Deara segera menghubungi Puskesmas.

Upaya Pertolongan dan Kematian

Bidan dan dokter dari Puskesmas segera datang ke rumah Deara untuk memeriksa Kenzie. Setelah melihat kondisi Kenzie, mereka memutuskan untuk segera merujuknya ke rumah sakit.

Namun, dalam perjalanan ke rumah sakit, kondisi Kenzie semakin kritis dengan bibir yang membiru dan kaki yang dingin. Sesampainya di ruang IGD pada pukul 15.00 WIB, nyawa Kenzie tidak dapat diselamatkan.

“Kami sangat sedih dan kecewa. Kami menuntut adanya penyelidikan mendalam agar tidak ada lagi korban berikutnya,” ungkap Isan Nur Arifin (27), ayah Kenzie.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *