Pikiran itu datang begitu saja, licin dan meyakinkan. Toh niatnya baik. Untuk mushala. Untuk menjaga kepercayaan. Untuk menghindari ribut yang tak perlu.
Raka membuka dompetnya. Kosong.
Malam itu, suara azan Isya terdengar lebih lama dari biasanya. Raka duduk di tepi kasur, menatap amplop cokelat yang kini sudah rapi kembali. Di luar, suara televisi tetangga bercampur tawa anak-anak.
Ia menekan tombol “Ajukan Pinjaman”.
Keesokan sore, meja RT dipenuhi warga. Amplop cokelat tergeletak di tengah, dikelilingi gelas teh manis dan gorengan. Pak RT membuka rapat dengan doa singkat.
“Alhamdulillah,” katanya sambil menghitung uang. “Terkumpul sesuai target.”
Raka menghela napas lega. Uang itu pas. Tidak kurang, tidak lebih. Tak ada yang bertanya. Tak ada yang curiga.
Tapi rasa lega itu tak bertahan lama.
Tiga hari kemudian, Pak RT mengetuk pintu rumah Raka. Wajahnya tak secerah biasanya.
“Ka,” katanya pelan, “ada satu warga yang baru lapor. Katanya sudah nyetor, tapi namanya belum tercatat.”
Raka merasa lututnya melemas.
“Siapa, Pak?”
“Bu Narti.”
Raka terdiam. Ingatannya melompat ke sore itu—Bu Narti menyerahkan uang sambil terburu-buru, cucunya menangis. Mungkin uang itu terjatuh. Mungkin terlipat di saku jaketnya. Mungkin—
“Kita enggak nuduh,” lanjut Pak RT. “Cuma mau klarifikasi.”