Malam itu, Raka tak bisa tidur. Ia menatap plafon, menghitung cicilan pinjol yang akan membengkak bulan depan. Ia bisa saja diam. Menunggu warga lain menutupinya. Di kampung, hal-hal sering selesai dengan cara begitu.
Tapi setiap kali memejamkan mata, ia teringat senyum Pak RT, mushala yang belum berdiri, dan amplop cokelat yang terasa berat di tangannya.
Pagi-pagi, Raka mendatangi rumah Pak RT. Ia menyerahkan uang dua ratus ribu rupiah, lengkap dengan cerita yang terputus-putus.
“Ini salah saya, Pak,” katanya lirih. “Saya ganti.”
Pak RT menatapnya lama. Tak ada amarah di wajahnya. Hanya lelah.
“Uang bisa dicari, Ka,” katanya akhirnya. “Tapi kepercayaan itu susah dibangun.”
Raka mengangguk. Dadanya perih, tapi entah kenapa terasa lebih ringan.
Beberapa hari kemudian, saat pembangunan mushala dimulai, Raka ikut mengaduk semen. Tak ada yang menyinggung kejadian itu. Tapi ia tahu, di kampung ini, kejujuran tak selalu bersuara keras. Kadang, ia hanya memilih untuk tidak pergi.
Dan amplop cokelat itu—yang pernah terasa begitu berat—kini hanya tinggal kertas kosong di laci meja RT.
Baca Juga: Bayangkan! Karakter Naruto vs. Sung Jinwoo: Duel Epik Antara Dunia Ninja dan Game
Artikel Terkait
Inilah Jenis Haki dari 8 Jagoan Angkatan Laut di One Piece
Api Tak Terpadamkan: Menyelami Dunia 10 Hero Anime dengan Jurus Api Memukau
Dibalik Jargon Shannaro: Fakta Mengejutkan Tentang Sakura Haruno di Naruto
Kekuatan dan Kecerdasan High Orc: Ancaman Baru di Dunia Hunter Solo Leveling
Bayangkan! Karakter Naruto vs. Sung Jinwoo: Duel Epik Antara Dunia Ninja dan Game