Sulawesitoday - Gempa magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur. Korban jiwa kini tembus puluhan orang.
"Tim gabungan mencatat 38 orang meninggal dunia hingga Sabtu, 15 Agustus 2026 sore," kata Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suharyanto, Sabtu 15 Agustus 2026.
Manggarai Timur menjadi wilayah terdampak terparah. Wilayah tersebut menyumbang angka kematian tertinggi sebanyak 17 jiwa.
Petualangan pencarian korban terus dipacu petugas. Jumlah korban diprediksi masih dapat bertambah.
Ribuan warga terpaksa meninggalkan rumah mereka. Mereka mengungsi secara mandiri ke tempat aman.
Baca Juga: Gempa M 7,7 Guncang NTT, Air Laut Pesisir Labuan Bajo Sempat Surut Peringatan Tsunami Dicabut
"Sebanyak dua ribu jiwa mengungsi karena kediaman mereka rusak parah," kata Suharyanto.
Infrastruktur antardesa mengalami kerusakan sangat luas. Longsor menutup beberapa akses jalan utama warga.
Kementerian Pekerjaan Umum mendata kerusakan fisik lapangan. Jaringan komunikasi perlahan mulai dapat terhubung.
Fasilitas publik ikut hancur akibat guncangan. Gedung pemerintah dan puskesmas rusak di beberapa bagian.
Ancaman gelombang laut sempat memicu kepanikan warga. BMKG merilis peringatan dini gelombang tinggi.
"Peringatan tsunami kini resmi berakhir," kata Kepala BMKG melalui keterangan tertulis.
Artikel Terkait
Zakat Jadi Dana Darurat Korban Kekerasan Gender di Sulbar
Larang Peringatan Setahun Kematian Affan Kurniawan, Keluarga Minta Doa Tanpa Aksi
Kementerian Kebudayaan Telusuri Jaringan Maritim Syekh Yusuf Al-Makassari di Sulawesi Tengah
Aneh, Kapal Tak Ada di Tinombo Tapi Kuota Barcode Solar Subsidi Nelayan Terpakai
Gempa M 7,7 Guncang NTT, Air Laut Pesisir Labuan Bajo Sempat Surut Peringatan Tsunami Dicabut