Menguak Misteri Udang Selingkuh: Lobster Air Tawar Unik dari Pegunungan Papua

waktu baca 2 menit
Menguak Misteri Udang Selingkuh: Lobster Air Tawar Unik dari Pegunungan Papua

Sulawesitoday – Hai pembaca setia, kali ini kita akan menjelajahi keunikan dari udang selingkuh, atau lebih dikenal sebagai lobster air tawar, yang menjadi kekayaan tersembunyi di Dataran Tinggi Papua. 

Dengan habitatnya yang berada di sungai-sungai Pegunungan Papua pada ketinggian 1.650-1750 meter di atas permukaan laut, udang selingkuh bukanlah sekadar hewan air tawar biasa.

Keunikan Udang Selingkuh: Tubuh Mirip Udang, Capit Seperti Kepiting

Bayangkan udang dengan dua lengan besarnya yang dilengkapi dengan capit seperti kepiting. Inilah ciri khas dari udang selingkuh, yang membedakannya dari udang biasa. 

Cangkangnya lebih keras, meski ukuran capitnya lebih kecil daripada kepiting air asin. Penampilannya yang hitam agak kebiruan membuatnya tampak eksotis. 

Meskipun sejatinya adalah lobster air tawar, ukurannya tidak sebesar lobster air asin yang biasa kita kenal.

Keanekaragaman Spesies di Pegunungan Papua

Pegunungan Papua ternyata menjadi rumah bagi 13 spesies Cherax, salah satunya Cherax monticola yang hidup di Sungai Baliem.

Lokasi lainnya, seperti Danau Habema, Danau Paniai, Danau Tage, dan Danau Tigi, juga menjadi tempat hidup udang selingkuh. 

Cherax sp bersifat endemik, terbatas pada wilayah tertentu di danau, rawa, atau sungai pegunungan.

Topik terkait

Eksplorasi di Gua Tobece: Udang Selingkuh Mini

Dalam ekspedisi penelitian di Gua Tobece, Kampung Parema, Wamena, ditemukan spesies lain dari udang selingkuh. 

Ukurannya lebih kecil, sekitar 1-1,5 sentimeter, dan transparan sehingga organ dalamnya terlihat jelas. 

Masyarakat Suku Dani, dengan kepiawaian mereka, menjadikan udang selingkuh bagian dari lauk makanan, ditangkap dengan tangan kosong atau alat serok dari rajutan kulit kayu pohon melinjo.

Kuliner Lokal: Udang Selingkuh dalam Menu Makanan Khas Wamena

Daging udang selingkuh memiliki tekstur mirip lobster, padat, lembut, dan berserat. 

Rasanya yang gurih, lembut, dan sedikit manis membuatnya cocok untuk berbagai masakan. 

Masyarakat Wamena jarang menambahkan banyak bumbu, memilih membakar atau merebus udang selingkuh. Seluruh bagian tubuhnya bisa dimakan, kecuali kepala.

Manfaat Gizi dan Pemeliharaan Populasi

Udang selingkuh bukan hanya lezat, tapi juga kaya gizi dengan kalsium, protein, selenium, fosfor, magnesium, sodium, dan zinc. 

Meskipun rendah kalori, dalam 100 gram daging udang segar terdapat 106 kalori. 

Untuk mencegah penurunan populasi, Balai Perikanan Budi Daya Air Tawar mengembangkan teknologi budi daya terpadu di Tatelu, Sulawesi Utara, menjadikannya harapan sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi di Papua.

Dengan keunikan bentuk, rasa, dan manfaat gizinya, udang selingkuh dari Pegunungan Papua tidak hanya menjadi kuliner lokal yang lezat tetapi juga menarik perhatian dunia akan kekayaan alam yang belum terungkap sepenuhnya. 

Semakin dalam kita menjelajahi misteri udang selingkuh, semakin kita menyadari betapa pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem di daerah ini. Selamat menjelajah!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *