Perjalanan wisata ke Monumen Mandala: Saksi Bisu Sejarah Pembebasan Irian Barat

waktu baca 2 menit
Perjalanan wisata ke Monumen Mandala: Saksi Bisu Sejarah Pembebasan Irian Barat

Sulawesitoday – Berbicara tentang perjalanan ke Sulawesi, tak hanya alamnya yang memesona, tetapi juga sejarahnya yang mengesankan.

Salah satu destinasi sejarah yang patut dikunjungi adalah Monumen Mandala di Makassar, Sulawesi.

Mari ikuti cerita perjalanan saya yang membawa saya mengintip ke dalam lorong waktu sejarah Indonesia.

Awal Petualangan di Makassar

Berpelukan erat dengan Monumen Mandala, saya merenung pada bangunan kokoh ini yang menjadi saksi perjuangan pembebasan Irian Barat.

Tidak hanya sebagai objek wisata, monumen ini memiliki nilai sejarah yang mendalam.

Peletakan batu pertama pada tanggal 11 Januari 1994 oleh Menko Polkam, Soesila Sudarman, menjadi awal dari perjalanan panjang menuju kemerdekaan Irian Barat.

Melacak Jejak Sejarah Pembebasan Irian Barat

Memasuki lantai pertama monumen, diorama menggambarkan perjuangan pahlawan lokal, sedangkan lantai kedua menyajikan kisah pahlawan nasional.

Galeri dan ruang pertemuan masih hidup di lantai dua, menjadi saksi bisu pertemuan-pertemuan bersejarah.

Topik terkait

Bambu runcing dan relief lidah api mengisyaratkan semangat juang yang berkobar-kobar, sementara patung harde mencapai langit, melambangkan cita-cita tinggi yang berhasil dicapai.

Artistik dan Edukatif di Setiap Sudut

Bangunan setinggi 75 meter ini memukau dengan desain segi tiga, mencerminkan simbol Trikora yang mengawali pergerakan.

Relief mengelilingi monumen, menceritakan perjuangan dan adegan dramatis masa itu.

Di dalam, 12 diorama di lantai 1 menjelaskan momen bersejarah, sedangkan lantai 2 menampilkan perebutan Irian Barat.

Perjalanan Waktu yang Menggugah Semangat

Mengunjungi Monumen Mandala bukan hanya melihat bangunan megah, tetapi menyelami perjalanan panjang perebutan Irian Barat.

Meskipun telah berdiri sejak lama, aura perjuangan masih terasa.

Berkesempatan naik ke menara pengawas, merogoh kocek
Rp. 10 ribu terasa sebanding dengan pemandangan yang memukau.

Pengalaman ini, bersama keluarga atau buah hati, membuka wawasan tentang sejarah bangsa dan menggugah semangat nasionalisme.

Wisata Sejarah Mudah di Jangkau

Terletak strategis di Jend. Sudirman, Sawerigading, Kecamatan Ujung Pandang, Monumen Mandala mudah dijangkau dengan berbagai kendaraan.

Buka dari pukul 08.00 hingga 17.00, biaya masuk Rp. 10 ribu terasa terjangkau.

Monumen ini tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga lahan untuk Car Free Day dan berbagai acara masyarakat, memperlihatkan betapa hidupnya sejarah di tengah-tengah kehidupan modern.

Puncak Perjalanan: Menjejaki Sejarah dan Nasionalisme

Saat melepaskan pandangan dari menara pengawas, saya merasa telah menjejaki sejarah dan merasakan semangat nasionalisme.

Melalui Monumen Mandala, Sulawesi menyuguhkan lebih dari sekadar keindahan alam. Ia membawa pengunjung dalam perjalanan waktu, mengingatkan kita akan perjuangan panjang bangsa ini merebut kembali haknya.

Bagi mereka yang mencintai sejarah, Monumen Mandala bukan sekadar destinasi wisata, melainkan perjalanan yang menggugah hati dan pikiran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *