Sulawesitoday - Empat kekalahan beruntun di liga. Terdengar seperti statistik klub medioker, bukan Manchester City yang selama ini dianggap tim dengan kedalaman skuad terbaik di dunia. Namun, inilah kenyataan yang harus diterima para penggemar City saat ini. Setelah dihantam Liverpool 0-2 pada 1 Desember 2024, tim asuhan Pep Guardiola mencatat rekor buruk yang belum pernah terjadi sejak 2008. Bahkan, ini pertama kalinya Guardiola mengalami fase seperti ini sepanjang karier gemilangnya.
Masalah utama? Lini tengah yang kehilangan nyawanya. Absennya Rodri akibat cedera lutut jelas seperti mencabut jangkar dari kapal besar. Tanpa sang gelandang bertahan, City tak hanya kehilangan penguasaan bola, tetapi juga stabilitas permainan. Jamie Carragher, analis sepak bola dan mantan bek Liverpool, dengan tajam menyebut bahwa situasi ini mengingatkan pada "jatuhnya Liverpool di era sulit Klopp." Perlu regenerasi besar-besaran, katanya, agar City tetap relevan.
Tidak bisa dipungkiri, banyak pemain kunci di lini tengah City kini mulai menua. Kevin De Bruyne, meski masih menjadi otak permainan, tak lagi secepat dulu. Sementara itu, eksperimen Guardiola dengan opsi internal seperti Kalvin Phillips sejauh ini belum membuahkan hasil signifikan. Phillips, yang awalnya digadang-gadang sebagai penerus Fernandinho, terlihat kesulitan menyesuaikan diri dengan sistem yang menuntut dinamika tinggi.
Baca Juga: Krisis Manchester City, Pep Guardiola Pertimbangkan Mundur di Tengah Tren Negatif
Akankah De Jong Jadi Solusi?
Bursa transfer Januari mendatang menjadi momen krusial. Frenkie de Jong dari Barcelona disebut-sebut sebagai target utama. Tidak mengherankan, karena De Jong memiliki kemampuan unik untuk mengontrol tempo permainan dan visi yang tajam. Tapi seperti yang diungkapkan Guardiola sendiri, "Kami belum membuat keputusan. Sulit untuk mendapatkan pemain berkualitas tinggi di tengah musim." Barcelona, di bawah Hansi Flick, tampaknya juga tak berniat melepas De Jong dengan mudah.
Jika transfer ini gagal, City mungkin harus mengambil risiko lain. Apakah mereka akan menggandalkan pemain muda dari akademi? Ataukah mencari opsi murah dari liga lain? Situasi ini semakin mendesak mengingat posisi mereka yang kini hanya di urutan kelima, tertinggal 11 poin dari pemuncak klasemen, Liverpool. Sebuah situasi yang hampir mustahil untuk dikejar tanpa perbaikan signifikan.
Risiko Besar Menanti
City kini berada di persimpangan. Jika mereka tidak segera bangkit, peluang finis di empat besar pun bisa lenyap. Dengan Arsenal, Chelsea, dan bahkan Newcastle menunjukkan performa konsisten, Guardiola harus bekerja ekstra keras untuk menghindari bencana yang lebih besar.
Di balik segala masalah ini, satu hal jelas: dominasi Manchester City tidak lagi sama seperti dua atau tiga musim lalu. Regenerasi adalah keniscayaan. Tapi pertanyaannya, apakah mereka akan mampu melakukannya tepat waktu?