Sulawesitoday - Bisa dibilang, kisah Pierre-Emerick Aubameyang di Arsenal berakhir dengan catatan yang jauh dari ideal. Pemain asal Gabon ini akhirnya membuka tabir konflik panas yang melibatkan dirinya dan sang pelatih, Mikel Arteta.
Dalam sebuah wawancara terbaru, Aubameyang dengan gamblang menceritakan bagaimana hubungan yang awalnya harmonis berubah menjadi perseteruan yang sulit diatasi.
Segalanya bermula pada akhir 2021, saat Aubameyang baru kembali dari perjalanan pribadi untuk menjenguk ibunya yang sakit. Bukannya mendapatkan pengertian, ia justru mendapat tuduhan berat dari Arteta.
"Dia menuduh saya menusuknya dari belakang," ujar Aubameyang dengan nada kecewa. Tuduhan ini, menurutnya, tidak adil karena ia sudah menjelaskan alasan keberadaannya, yang jauh dari aktivitas rekreasi.
Hubungan ini semakin memburuk ketika Arteta memutuskan untuk mencopot jabatan kapten tim dari Aubameyang dan mengeluarkannya dari skuad menjelang laga penting Desember itu.
Baca Juga: Head to Head Panas: Arsenal vs Manchester United, Perebutan Poin Krusial di Liga Inggris
Bagi seorang pemain yang pernah jadi ujung tombak tim, keputusan ini adalah pukulan telak. Bahkan, dokter tim sempat memberi tahu bahwa Arteta tidak ingin Aubameyang hadir di pertandingan selanjutnya. "Itu membuat saya bingung sekaligus frustrasi," katanya.
Keputusan Arteta tersebut mencerminkan gaya kepemimpinannya yang tegas, tetapi juga meninggalkan luka mendalam pada Aubameyang. Meski demikian, Aubameyang mengakui bahwa ia juga memiliki tanggung jawab dalam situasi ini.
"Mungkin saya bisa menangani situasinya lebih baik," ia menambahkan, meskipun jelas ia berharap Arteta dapat lebih memahami konteks emosional yang ia alami.
Setelah konflik ini mencapai puncaknya, Aubameyang pun bergabung dengan Barcelona pada Januari 2022. Di sana, ia seolah menemukan kembali sentuhannya, mencetak 13 gol dalam 23 pertandingan hanya dalam enam bulan.
Namun, ketika pindah ke Chelsea, grafik performanya kembali merosot drastis. Dalam 22 pertandingan bersama The Blues, ia hanya mampu mencetak tiga gol, jauh dari ekspektasi para pendukung.
Kini, Aubameyang telah kembali ke Ligue 1 bersama Marseille, berharap bisa menutup lembaran buruk tersebut dan kembali menunjukkan kualitasnya sebagai penyerang papan atas. Kisah ini tak hanya menggambarkan konflik internal antara pemain dan pelatih, tetapi juga menjadi pengingat bahwa karier sepak bola, seperti kehidupan, dipenuhi pasang surut yang tak selalu bisa diprediksi.