Sulawesitoday - Ketika Arsenal melangkah ke Craven Cottage pada Minggu malam, mereka datang dengan satu misi: menebus luka kekalahan musim lalu.
Namun, Fulham punya rencana lain. Di bawah sorakan penuh semangat dari pendukungnya, mereka membuktikan bahwa Craven Cottage bukan tempat yang mudah untuk ditaklukkan.
Gol cepat Raul Jimenez di menit ke-11 menjadi pembuka laga yang penuh kejutan. Lewat serangan balik sederhana namun mematikan, Jimenez memanfaatkan celah kecil di pertahanan Arsenal.
Tembakannya? Luar biasa, lurus menghujam sudut gawang. Arsenal seolah tersentak, tetapi mereka tidak langsung mampu merespons.
Babak pertama jadi milik Fulham, bukan dalam hal statistik, tapi semangat. Mereka bertahan seperti benteng baja.
"Kami tahu Arsenal datang dengan serangan tajam, tapi kami sudah siap," kata Marco Silva dalam konferensi pers pasca-pertandingan. Statistik? Arsenal mendominasi, dengan 67% penguasaan bola dan 12 tembakan, tetapi efisiensi Fulham di belakang terlalu sulit ditembus.
Babak kedua membawa perubahan. Arsenal bangkit, dan akhirnya William Saliba mencetak gol penyama di menit ke-52. Lagi-lagi, Saliba jadi ancaman nyata dari situasi bola mati. Namun setelah itu, meski Arsenal terus menekan, finishing mereka masih menjadi masalah besar.
Drama sebenarnya terjadi di menit ke-90. Ketika Bukayo Saka berhasil menempatkan bola di gawang, stadion hening sejenak sebelum selebrasi besar dari Arsenal. Tapi VAR berbicara lain. Gol itu dianulir karena Martinelli berada dalam posisi offside saat build-up.
Fulham? Mereka terus bertahan hingga peluit panjang berbunyi. Satu poin di laga ini terasa seperti kemenangan bagi mereka. Untuk Arsenal, ini adalah pengingat keras bahwa penguasaan bola saja tidak cukup.
Hasil ini membuat The Gunners kehilangan kesempatan untuk mendekatkan diri ke posisi puncak klasemen. Sementara itu, Fulham terus membuktikan bahwa mereka layak diperhitungkan meski berada di papan tengah.