Sulawesitoday - Arsenal kembali membawa hasil kurang memuaskan dari Craven Cottage. Meski unggul hampir di semua aspek permainan, mereka harus puas bermain imbang 1-1 melawan Fulham. Tidak tanggung-tanggung, dominasi mereka mencapai 70% penguasaan bola. Tapi ya, bola tak sekadar soal statistik, kan?
Mikel Arteta pun tak segan menyuarakan kekecewaannya. "Kami melakukan hampir segalanya untuk menang. Saya merasa hasil ini tidak mencerminkan performa tim," kata Arteta dengan nada sedikit frustrasi. Namun, ia juga memberikan kredit kepada Fulham, yang menurutnya tampil dengan pertahanan luar biasa kokoh.
Laga itu sendiri dimulai dengan kejutan. Raul Jimenez, yang sebenarnya tak banyak diberi ruang, berhasil memanfaatkan peluang di awal. Arsenal kemudian membalas lewat William Saliba.
Tapi, menariknya, gol Saliba itu muncul dari situasi bola mati—lagi-lagi menunjukkan bahwa Arsenal kerap kesulitan menciptakan peluang dari open play.
Kalau mau jujur, di sini masalah Arsenal terlihat jelas. Dari 12 tembakan, hanya empat yang benar-benar mengarah ke gawang. Ini bukti bahwa dominasi tanpa efisiensi di kotak penalti lawan sama saja nihil. Ya, bola 70% itu bagus untuk statistik, tapi kalau finishing-nya buruk, ya sama saja.
Fulham bermain dengan disiplin yang patut diacungi jempol. Barisan belakang mereka benar-benar menutup ruang gerak pemain Arsenal. Bahkan Bukayo Saka, yang biasanya lincah di sisi sayap, terlihat kurang maksimal di laga ini.
Arteta sendiri sadar timnya perlu lebih tajam. "Untuk selisih milimeter saja, hasilnya bisa berbeda. Ini yang membuat Premier League selalu sulit," tambahnya. Kalimat itu seperti ingin menyiratkan bahwa Arsenal butuh lebih dari sekadar dominasi untuk bisa menjadi kandidat juara.
Buat kamu yang merasa Arsenal sudah cukup baik, hasil ini mungkin akan mengecewakan. Tapi, dari sini kita bisa belajar bahwa efisiensi di depan gawang adalah kunci. Tanpa itu, sebaik apa pun tim bermain, hasilnya tetap akan mengecewakan.