wisata

Ekspedisi 1.200 Kilometer, Dua Perahu Sandeq Napak Tilas Jalur Sejarah ke Banggai

Sabtu, 23 November 2024 | 18:24 WIB
Perjalanan 1.200 km dua perahu Sandeq menghidupkan tradisi maritim Mandar dan Bajau menuju UNESCO. (Dwi Rahayu Putri)

Sulawesitoday - Di tengah semilir angin laut Polewali Mandar, dua perahu Sandeq tradisional dilepas menuju perjalanan yang tak biasa. Mereka bukan sekadar perahu—melainkan simbol sejarah maritim yang kini dihidupkan kembali.

Dengan tajuk Ekspedisi Bajo Sulawesi, pelayaran ini membentangkan jalur sepanjang 1.200 kilometer menuju Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Jalur ini dikenal sebagai rute legendaris "jalur teripang", yang dulu menghubungkan komunitas maritim, terutama Suku Bajau.

Baca Juga: Hoaks dan Fitnah Jelang Pilkada, Tim BERAMAL Serukan Aksi Cepat Polda Sulteng

Ketua Tim Kerja Diplomasi Budaya Kementerian Kebudayaan, Mohamad Atqa, menyebut bahwa ekspedisi ini bukan semata-mata pelayaran biasa.

“Pelayaran ini adalah usaha kami mendokumentasikan warisan kebudayaan maritim yang kaya, sembari menghidupkan diskusi tentang tradisi dan ekosistem laut,” ujarnya. Proyek ini tidak hanya akan menghasilkan dokumentasi, tetapi juga diskusi budaya yang mendalam di berbagai pulau persinggahan.

Baca Juga: Hebat atau Berisiko? Ibu Hamil Ini Menyetir 26 KM Demi Hindari Bahaya

50 Hari, 1.200 Kilometer, dan Perahu Berusia 45 Tahun

Bayangkan ini: perahu tradisional berusia 45 tahun melawan gelombang laut selama hampir dua bulan. Ketika mendengar hal ini, Anda mungkin bertanya-tanya—mengapa? Menurut Ketua Tim Ekspedisi, Muhammad Ridwan Alimuddin, ini adalah bagian dari keunikan proyek ini.

“Kami menggunakan perahu Sandeq tradisional. Salah satunya bahkan harus direstorasi selama sebulan penuh sebelum siap digunakan,” katanya.

Baca Juga: Viral di TikTok Anak Broken Home Berjuang Merawat Adik di Tengah Keterbatasan

Tim ekspedisi terdiri dari sepuluh orang, termasuk pelaut Mandar profesional dan anggota Korps Pecinta Alam Universitas Hasanuddin (Unhas). Dengan peralatan yang terbatas, mereka akan menempuh perjalanan epik ini sembari mendokumentasikan tradisi lisan dan budaya komunitas Bajau yang mereka temui di sepanjang rute.

Dari Dokumentasi hingga Diplomasi

Ekspedisi ini dijadwalkan berakhir pada 11 Desember, tepat di Banggai, di mana festival budaya bahari akan menjadi puncak acara. Selain itu, akan diadakan kongres budaya Bajau yang melibatkan delegasi dari negara-negara ASEAN.

Baca Juga: Kisah Haru Siswa SD Papua, Baju Sobek dan Tangisan di Kelas Viral

Halaman:

Tags

Terkini