Sulawesitoday - Warga Kota Jayapura nekat mendulang emas di selokan pinggir jalan raya demi menyambung hidup. Fenomena ekstrem ini terpaksa dilakukan akibat himpitan ekonomi yang kian mencekik masyarakat setempat.
"Kami terpaksa mendulang di sini karena tidak ada pekerjaan lain untuk membeli beras," ujar perwakilan pendulang tradisional saat ditemui di lokasi.
Aktivitas liar ini memanfaatkan endapan lumpur dari perbukitan yang mengalir ke saluran drainase kota. Mereka dengan telaten mengayak material sisa tersebut menggunakan piringan kayu berukuran besar.
Hasil dulangan berupa serbuk halus biasanya langsung dijual kepada pengepul lokal. Pendapatan yang tidak menentu tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari hari.
Baca Juga: Diduga Disiksa Aiptu N Selama Dua Tahun, Istri Oknum Polisi Tegal Lapor Bareskrim Polri
Pemerintah Kota Jayapura melarang keras penambangan tanpa izin di fasilitas publik. Instansi terkait menegaskan bahwa aktivitas ilegal tersebut merusak infrastruktur perkotaan dan mengganggu lalu lintas.
"Saluran air bisa tersumbat dan memicu banjir bandang jika lumpur terus dikeruk," kata perwakilan pemerintah daerah dalam pernyataan resminya.
Risiko keselamatan juga mengintai para pendulang akibat arus air yang dapat berubah sewaktu waktu. Dinding selokan yang labil sewaktu waktu bisa runtuh dan menimbun warga yang sedang beraktivitas.
Potret kemiskinan urban ini memicu keprihatinan mendalam dari berbagai kalangan pengamat sosial. Pemerintah daerah diharapkan segera memberikan solusi konkret berupa pembukaan lapangan kerja baru.