Jejak Parasit Tertua: Rekam Arkeologi Kotoran di Toilet Kuno

waktu baca 3 menit
Jejak Parasit Tertua - Sebuah penelitian yang menggugah perhatian datang dari hasil analisis kotoran manusia yang berusia 2.500 tahun, ditemukan di toilet di Yerusalem. Peneliti telah berhasil mengungkap keberadaan parasit disentri tertua yang pernah ditemukan dalam kotoran tersebut.

Jejak Parasit Tertua – Sebuah penelitian yang menggugah perhatian datang dari hasil analisis kotoran manusia yang berusia 2.500 tahun, ditemukan di toilet di Yerusalem. Peneliti telah berhasil mengungkap keberadaan parasit disentri tertua yang pernah ditemukan dalam kotoran tersebut.

Parasit mikroskopis ini, dikenal sebagai Giardia duodenalis, merupakan penyebab infeksi usus yang menghasilkan gejala diare berdarah parah, kram perut, dan demam. Penelitian ini, yang diterbitkan dalam jurnal Parasitology, telah berhasil mengidentifikasi sisa-sisa protozoa ini pada kotoran manusia kuno yang berusia 2.500 tahun.

Jejak Parasit di Toilet Kuno

Melansir dari Live Science pada Rabu (23/8/2023), para peneliti menemukan bukti G. duodenalis di bawah dudukan toilet batu di dua situs besar yang kemungkinan merupakan tempat tinggal elit pada abad ke-7 hingga ke-6 SM. Toilet kuno ini memiliki dudukan yang melengkung untuk duduk, lubang besar untuk buang air besar, dan lubang kecil untuk buang air kecil.

Karena toilet tersebut masih berada di lokasi asalnya, ini memberikan peluang unik bagi para peneliti untuk mengidentifikasi mikroorganisme yang ada dalam kotoran lama.

Penelitian sebelumnya mengenai sistem pembuangan limbah pada masa itu telah mengungkapkan adanya telur cacing cambuk, cacing gelang, cacing kremi, dan cacing pita dalam kotoran, menunjukkan praktik sanitasi yang masih kurang pada Zaman Besi.

Dalam studi ini, para peneliti menggunakan teknik ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay) untuk mengidentifikasi keberadaan parasit penyebab diare. Mereka mengambil sampel dari lubang pembuangan di dua situs, yakni House of Ahiel yang berada di luar tembok kota Yerusalem, dan Armon ha-Natziv yang terletak sekitar 1,6 kilometer di selatan kota.

Duodenalis adalah parasit mikroskopis berbentuk mirip buah pir yang menyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi oleh kotoran manusia atau hewan yang terinfeksi. Parasit ini mengganggu lapisan usus manusia, menguras nutrisi yang ada di sana.

Meskipun kebanyakan orang yang terinfeksi sembuh tanpa antibiotik, penetrasi parasit ini ke dalam lapisan usus dapat membuka peluang bagi bakteri dan organisme lain untuk masuk, yang berpotensi menyebabkan penyakit serius.

Arti Penting Temuan

Topik terkait

Penemuan G. duodenalis di toilet Zaman Besi merupakan bukti paling awal tentang keberadaan parasit ini dalam populasi masa lalu. Meskipun belum diketahui pasti sejak kapan G. duodenalis mulai menyebabkan disentri pada manusia, bukti medis tertulis dari Mesopotamia, salah satu masyarakat kompleks awal, sudah mencatat masalah diare sekitar 3.000 hingga 4.000 tahun lalu.

Penyakit ini tampaknya menjadi lebih umum ketika pemukiman permanen dan domestikasi hewan dan tanaman terjadi di lingkungan dengan kepadatan penduduk dan sanitasi yang buruk.

Meskipun temuan ini memberikan gambaran menarik tentang sejarah kesehatan manusia, para peneliti mengakui perlunya lebih banyak studi pada masyarakat kuno untuk memahami lebih lanjut asal-usul parasit dan sejarah penyebarannya.

Baca juga: Anak Jerapah Langka: Berkelana di Tanah Tanpa Pola

Jejak Parasit Tertua - Sebuah penelitian yang menggugah perhatian datang dari hasil analisis kotoran manusia yang berusia 2.500 tahun, ditemukan di toilet di Yerusalem. Peneliti telah berhasil mengungkap keberadaan parasit disentri tertua yang pernah ditemukan dalam kotoran tersebut.
Jejak Parasit Tertua – Sebuah penelitian yang menggugah perhatian datang dari hasil analisis kotoran manusia yang berusia 2.500 tahun, ditemukan di toilet di Yerusalem. Peneliti telah berhasil mengungkap keberadaan parasit disentri tertua yang pernah ditemukan dalam kotoran tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *