Sulawesitoday - Kekalahan 0-2 Manchester United dari Arsenal di Emirates pada 5 Desember 2024 mengejutkan banyak pihak, tetapi alasan di balik hasil buruk ini justru lebih kompleks daripada sekadar skor akhir. Ruben Amorim, pelatih anyar United, dengan jujur menyebut bahwa kurangnya waktu latihan menjadi biang keladi kekalahan timnya.
"Kami butuh lebih banyak latihan," ucapnya, menyoroti betapa Arsenal memanfaatkan situasi bola mati dengan sangat baik.
Gol dari Jurrien Timber dan William Saliba, keduanya berasal dari tendangan sudut, menunjukkan perbedaan mencolok dalam persiapan kedua tim. Arsenal mengambil 13 tendangan sudut dalam pertandingan ini, dan dua di antaranya berhasil dimaksimalkan menjadi gol.
Sementara itu, Manchester United terlihat kurang siap menghadapi tekanan situasi bola mati. Ini adalah kelemahan yang harus segera dibenahi, tetapi hal itu bukanlah satu-satunya masalah.
Beberapa pemain kunci United, seperti Harry Maguire dan Mason Mount, baru kembali dari cedera. Dalam kondisi fisik yang belum optimal, kontribusi mereka pun terbatas.
Baca Juga: Minim Kesempatan, Gabriel Jesus Pertimbangkan Hijrah di Januari: Arsenal Siap Melepas?
Bahkan Andre Onana, yang biasanya tampil solid di bawah mistar, tampak gugup saat berhadapan dengan bola mati. Tidak sedikit yang menilai bahwa performanya turut memperburuk hasil ini.
Lebih jauh, strategi Ruben Amorim menjadi sorotan. Formasi 3-4-2-1 yang diandalkannya tampak tidak fleksibel menghadapi tekanan Arsenal.
Meskipun formasi itu memberikan stabilitas dalam beberapa pertandingan sebelumnya, menghadapi tim yang lebih kuat seperti Arsenal membutuhkan pendekatan berbeda. Amorim pun terkesan kurang berani menyesuaikan strateginya selama pertandingan berlangsung.
Kekalahan ini adalah yang pertama bagi Amorim sejak mengambil alih kursi pelatih. Sebelumnya, ia meraih dua kemenangan dan satu hasil imbang, membuat harapan tinggi akan masa depan United di bawah asuhannya.
Namun, hasil buruk ini adalah pengingat bahwa perubahan besar butuh waktu. Saat ini, United hanya berada di peringkat ke-11 klasemen dengan 19 poin dari 14 pertandingan, posisi yang jauh dari harapan para penggemarnya.
Kisah ini bukan hanya tentang kekalahan, tapi juga tentang peluang belajar. Amorim kini ditantang untuk memperbaiki taktiknya, meningkatkan kebugaran pemain, dan menanamkan mentalitas juara dalam tim. Satu hal yang pasti: jika masalah ini tidak segera diatasi, United mungkin akan kesulitan kembali ke jalur kemenangan.