• Kamis, 4 Juni 2026

Mengapa Jari Sukuna Dibiarkan di Ending Jujutsu Kaisen? Plot Twist atau Strategi Lainnya?

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Selasa, 1 Oktober 2024 | 19:46 WIB
Mengapa jari Sukuna dibiarkan begitu saja di akhir Jujutsu Kaisen? Sebuah pertanyaan yang mungkin punya jawaban lebih dalam dari yang kita duga. #JujutsuKaisen #JariSukuna #MisteriAnime (Muhammad Aqil Azizi)
Mengapa jari Sukuna dibiarkan begitu saja di akhir Jujutsu Kaisen? Sebuah pertanyaan yang mungkin punya jawaban lebih dalam dari yang kita duga. #JujutsuKaisen #JariSukuna #MisteriAnime (Muhammad Aqil Azizi)

Sulawesitoday - Bagi para penggemar anime dan manga, mungkin kita semua sudah tahu seberapa besar daya tarik Jujutsu Kaisen. Dan, ngomong-ngomong soal daya tarik, nggak ada yang lebih bikin penasaran daripada jari Sukuna. Bayangin aja, di akhir cerita, jari ini kayak nggak digubris. “Kenapa nggak dihancurin aja sih?” mungkin itu pertanyaan pertama yang muncul di kepala kita. Tapi ada banyak teori yang bisa bikin kita mengernyitkan dahi.

Sebenarnya, jari-jari Sukuna memang punya peran sentral dalam keseluruhan cerita. Kita udah lihat bagaimana mereka punya kemampuan buat nge-summon salah satu entitas terkuat dalam dunia Jujutsu Kaisen. Kalau dipikir-pikir, logikanya, seharusnya jari itu dihancurkan biar nggak ada lagi kekuatan jahat yang bisa muncul, kan? Tapi kenyataannya, malah dibiarkan begitu saja.

Jadi, kenapa begitu? Bisa jadi, ini semua soal keseimbangan. Dalam dunia Jujutsu Kaisen, kekuatan kutukan dan kekuatan Jujutsu harus tetap seimbang. Menghancurkan jari Sukuna mungkin bisa berarti menghilangkan salah satu bagian penting dari keseimbangan itu. Dan siapa tahu, mungkin ada konsekuensi yang lebih buruk kalau jari-jari ini dihilangkan begitu saja.

Baca Juga: 6 Penyihir Jujutsu Kaisen yang Mampu Mengguncang Jiwa Musuh

Beberapa fans berspekulasi kalau jari-jari ini punya peran lebih besar di masa depan. Mungkin, pihak jujutsu sebenarnya butuh jari Sukuna sebagai 'senjata terakhir' jika situasi jadi lebih kacau dari yang sudah ada. Agak gila sih kedengarannya, tapi kita nggak bisa menutup kemungkinan itu.

Efek Jari Sukuna dalam Plot Jujutsu Kaisen

Bicara soal plot, jari-jari ini bukan sekadar artefak jahat. Mereka juga jadi bagian dari perjalanan karakter utama, Yuji Itadori. Setiap kali dia menelan jari itu, dia semakin dekat dengan kehancurannya sendiri. Tapi di sisi lain, dia juga makin kuat. Ada paradoks yang menarik di sini, dan sejujurnya, mungkin ini salah satu alasan kenapa para penulis tetap membiarkan jari-jari ini utuh sampai akhir cerita.

Seperti yang dibilang Gojo Satoru di awal cerita, "Bukan masalah menang atau kalah, ini soal siapa yang tetap berdiri sampai akhir." Jari Sukuna jadi simbol yang terus mengingatkan kita kalau dalam dunia Jujutsu Kaisen, nggak ada yang benar-benar hitam atau putih. Ada abu-abu yang selalu menyertai.

Sisi Mitologis dari Jari Sukuna

Kalau kita tarik lebih jauh, jari Sukuna juga terinspirasi dari mitologi Jepang. Dalam kisah asli Ryomen Sukuna, dia digambarkan sebagai sosok yang punya kekuatan luar biasa dan sering dihubungkan dengan kutukan. Dengan kata lain, jari-jari ini adalah bagian dari tradisi lama yang diadaptasi ke dunia modern dalam cerita Jujutsu Kaisen. Mungkin, justru karena elemen ini, para kreator ingin tetap mempertahankan jari tersebut sebagai penghormatan terhadap cerita asli.

Ada yang bilang, “Kamu nggak bisa benar-benar menghancurkan bagian dari sejarah.” Mungkin inilah filosofi yang coba dipegang oleh Jujutsu Kaisen. Mereka memilih untuk membiarkan bagian dari kisah Sukuna tetap hidup, meskipun hanya melalui jari-jari ini.

Strategi Marketing?

Nggak bisa dipungkiri, jari Sukuna udah jadi salah satu elemen ikonik dari Jujutsu Kaisen. Dan mungkin, keputusan untuk tetap menyimpan jari ini juga bagian dari strategi marketing. Bukan rahasia lagi kalau benda-benda yang ikonik biasanya bakal dijual habis-habisan oleh industri. Merchandise, patung mini, poster, semuanya punya potensi besar untuk mendulang keuntungan.

Dalam hal ini, membiarkan jari Sukuna tetap ada bisa berarti memperpanjang usia cerita itu sendiri. Fans jadi terus bertanya-tanya dan berteori, sehingga membuat hype tetap terjaga. Kalau semuanya diselesaikan begitu saja, ya, mungkin ceritanya nggak akan se-menakjubkan itu lagi.

Halaman:

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Amplop Cokelat di Meja RT

Sabtu, 13 Desember 2025 | 18:25 WIB