Sulawesitoday - Dulu, orang bilang internet murah itu pasti lambat. Atau, internet cepat itu pasti mahal. Pilihannya cuma dua: dompet yang menang atau emosi yang menang karena koneksi lemot.
Tapi sekarang, rumus itu mau dibongkar. Habis-habisan.
Namanya IRA. Singkatan dari Internet Rakyat.
Baru saja diluncurkan secara komersial tanggal 19 Februari 2026. Yang meluncurkan adalah PT Telemedia Komunikasi Pratama. Itu anak usaha dari emiten WIFI, PT Solusi Sinergi Digital Tbk. Emiten yang kita tahu ada kaitannya dengan pengusaha senior Hashim Djojohadikusumo.
Harganya? Ini yang bikin geleng-geleng kepala. Cuma Rp 100.000 per bulan.
Harganya? Ini yang bikin geleng-geleng kepala. Cuma Rp 100.000 per bulan.
Kecepatannya? Sampai 100 Mbps.
Kapasitasnya? Unlimited. Benar-benar tanpa batas kuota.
Bahkan, biaya instalasi yang biasanya ratusan ribu itu digratiskan. Sewa modemnya pun gratis. Masih kurang? Bulan pertamanya pun tidak perlu bayar.
Saya jadi ingat target pemerintah. Lewat Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 13 Tahun 2025, targetnya memang internet 100 Mbps dengan harga maksimal Rp 147.000. IRA ini malah lebih murah lagi.
Bagaimana bisa?
Rahasianya ada di teknologi. Mereka tidak pakai sistem gali tanah untuk tanam kabel fiber optik ke setiap rumah. Itu mahal dan lama. Mereka menggunakan teknologi 5G Fixed Wireless Access (FWA) di frekuensi 1,4 GHz. Katanya, ini yang pertama di dunia untuk skala komersial sebesar ini.
Spektrum 1,4 GHz ini punya kelebihan: daya tembusnya ke dalam ruangan (indoor) sangat kuat. Jadi, meskipun rumah Anda di area padat penduduk atau di dalam gedung, sinyalnya tetap stabil.
Direktur Utama Telemedia, Shannedy Ong, menyebut ini sebagai "eksekusi nyata". Bukan lagi sekadar konsep atau uji coba.