Sulawesitoday - Dunia lagi gila AI. Kecerdasan buatan.
Semua orang bicara ChatGPT. Semua orang takut digantikan robot. Tapi di balik layar monitor yang dingin itu, ada pemandangan lain yang sangat panas. Panas sekali.
Perusahaan raksasa dunia lagi 'bakar uang'. Bukan sembarang bakar. Mereka sedang membangun pondasi fisik yang masif. Istilahnya: Pusat Data AI.
Nilainya? Bikin geleng-geleng kepala.
Empat raksasa—Alphabet (Google), Microsoft, Meta, dan Amazon—sudah ketok palu. Tahun ini saja, mereka komitmen kucurkan hampir US$ 700 miliar. Kalau dirupiahkan? Silakan hitung sendiri nolnya. Saya khawatir kalkulator Anda menyerah.
Lihatlah Louisiana di Amerika Serikat.
Amazon masuk ke sana. Investasinya US$ 12 miliar. Mereka tidak cuma bawa server. Mereka bawa lapangan kerja. Ada 540 posisi penuh waktu. Belum lagi 1.700 teknisi listrik dan spesialis keamanan.
Lalu ada Meta. Perusahaannya Mark Zuckerberg ini lebih gila lagi. Tahun lalu mereka gandeng Blue Owl Capital. Proyeknya: Pusat Data Hyperion. Raksasa sekali. Konon, listrik yang disedot fasilitas ini lebih besar dari kebutuhan satu kota New Orleans.
Bayangkan. Satu gedung makannya lebih banyak dari satu kota.
Banyak orang khawatir AI bakal menggusur karyawan kerah putih. Penulis, desainer, atau admin. Tapi lihatlah sisi lainnya. Ledakan infrastruktur ini justru menciptakan "tambang emas" baru bagi pekerja lapangan. Pekerja berotot yang punya otak teknis.
Sander van’t Noordende punya datanya. Beliau CEO Randstad, perusahaan perekrutan terbesar dunia. Katanya simpel: Revolusi digital itu butuh fondasi fisik.
Data Randstad bicara jujur. Antara 2022 sampai 2026, permintaan teknisi robotika melonjak 107 persen. Insinyur sistem pendingin (HVAC) naik 67 persen. Kenapa pendingin? Karena ribuan komputer canggih itu kalau bekerja panasnya minta ampun. Harus didinginkan. Kalau tidak, bisa meledak.
Lalu ada teknisi otomatisasi industri yang tumbuh 51 persen. Bahkan tukang listrik dan kuli konstruksi kecipratan naik 27 persen.
Hukum ekonomi berlaku: kalau barang langka, harga mahal.
Artikel Terkait
Hati-hati! Suara di Telepon Itu Bisa Jadi AI, Ini Cara Tangkis Vishing 2026
Borong PC Sebelum Harga Gila, Krisis Chip Memori AI Mengancam Pasar Elektronik 2026
Raja Chip Dunia Kembali, Jepang Kejar 40 Triliun Yen Semikonduktor di Era AI
Pedang Bermata Dua Bernama AI, Indonesia Berlari atau Tergilas?
Ketar-Ketir di Era Robot Pintar: Siapa yang Akan Digusur AI, Siapa yang Aman?