Sekarang, tenaga kerja terampil itu yang langka. Akibatnya? Gaji melambung. "Premi kelangkaan," istilah Pak Noordende.
Gaji teknisi pendingin saja sudah naik 15 persen dalam empat tahun terakhir. Di Amerika, gaji enam digit—alias ratusan ribu dolar setahun—bukan lagi mimpi. Itu sudah nyata.
Bahkan kalau Anda ahli teknis dan pindah ke proyek pusat data, gaji Anda bisa langsung lompat 30 persen. Perusahaan Kelly Services yang membocorkan data itu.
Jensen Huang, Bos Nvidia yang lagi naik daun itu, juga sudah meramal. Pekerja yang membangun "Pabrik AI" ini akan segera menikmati gaji selangit.
Masalahnya satu: Orangnya tidak ada.
Amerika diprediksi kekurangan 1,9 juta pekerja manufaktur pada 2033. Kurang orang, kerjaan numpuk.
Gary Wojtaszek, CEO Pure Data Centres, sampai pusing. "Ini masalah besar. Dan bakal makin buruk," katanya.
Maka, mulailah terjadi "perang" baru: Pembajakan talenta.
Perusahaan teknologi membajak orang dari sektor pertahanan. Sektor energi membajak dari teknologi. Saling sikut. Saling rayu dengan dolar.
BlackRock—raksasa pengelola aset itu—sampai turun tangan. Mereka luncurkan dana US$ 100 juta awal Maret lalu. Hanya untuk melatih pekerja terampil. Larry Fink, sang CEO, sadar betul. Punya duit US$ 10 triliun pun tidak guna kalau tidak ada orang yang bisa memasang kabelnya.
Tapi ada tantangan yang lebih gelap. Bukan cuma soal usia pekerja yang makin tua. Tapi soal nyawa.
Pusat data sekarang jadi target politik dan militer. Ingat kejadian awal bulan ini? Pusat data Amazon di Uni Emirat Arab disasar pesawat tak berawat Iran.
Bekerja di pusat data sekarang seperti bekerja di medan tempur. Ada beban psikologis. Menjadi target panas.
Maka, ke depan, gaji besar itu bukan cuma karena Anda pintar. Tapi karena Anda berani. Ada "uang risiko" yang harus dibayar mahal oleh para raksasa teknologi.
Dunia memang sedang berubah. Kita sibuk belajar coding, padahal yang sedang dicari adalah mereka yang jago memperbaiki sistem pendingin dan memasang instalasi listrik raksasa.
Artikel Terkait
Hati-hati! Suara di Telepon Itu Bisa Jadi AI, Ini Cara Tangkis Vishing 2026
Borong PC Sebelum Harga Gila, Krisis Chip Memori AI Mengancam Pasar Elektronik 2026
Raja Chip Dunia Kembali, Jepang Kejar 40 Triliun Yen Semikonduktor di Era AI
Pedang Bermata Dua Bernama AI, Indonesia Berlari atau Tergilas?
Ketar-Ketir di Era Robot Pintar: Siapa yang Akan Digusur AI, Siapa yang Aman?