Sulawesitoday - Saya punya tetangga. Petani tua. Orangnya pendiam.
Suatu hari ia datang ke rumah membawa sebuah sabit baru. Berkilap. Tajam di kedua sisinya.
"Hati-hati, Pak," kata istri saya. "Dua-duanya tajam."
Si petani tua itu hanya tersenyum. "Justru itulah gunanya," jawabnya singkat.
Saya teringat cerita itu ketika membaca tentang AI. Kecerdasan buatan. Artificial Intelligence.
Pedang bermata dua itu kini ada di genggaman kita semua.
Manfaatnya Nyata. Bahayanya Juga Nyata.
Jangan terlalu cepat kagum. Tapi jangan juga terlalu cepat takut.
AI memang luar biasa. Ia bisa mendiagnosis penyakit lebih cepat dari dokter senior yang sudah 30 tahun praktek. Ia bisa menulis kode program dalam hitungan detik yang butuh programmer seminggu untuk menyelesaikannya. Ia bisa menerjemahkan bahasa yang tidak pernah Anda pelajari seumur hidup.
Pertumbuhan ekonomi? Para ekonom menyebutnya game changer. Produktivitas bisa melonjak. Birokrasi bisa dipangkas. Layanan publik bisa lebih cepat dan lebih murah.
Tapi tunggu dulu.
Di balik semua kemegahan itu, ada wajah lain yang tidak secantik brosur promosi.
Ada pegawai kantor yang tiba-tiba kehilangan pekerjaan karena tugasnya sudah dikerjakan AI. Ada wartawan yang bingung karena berita palsunya lebih viral dari berita aslinya. Ada anak muda yang tidak bisa membedakan mana foto nyata mana foto rekayasa.
Belum lagi soal lingkungan. Server-server raksasa yang menjalankan AI itu minum listrik dalam jumlah yang membuat kita tercengang. Air untuk mendinginkan mesin-mesin itu pun tidak sedikit. Bumi ikut membayar tagihan kemajuan kita.
Artikel Terkait
Izin Terbit! Proyek Nuklir Garam TerraPower Milik Bill Gates Siap Beroperasi 2030
Aturan RI Mendunia, YouTube Buka Suara Soal Larangan Akses Anak di Bawah 16 Tahun
Harga HP Naik Mulai 16 Maret, Ternyata Biang Keroknya Krisis Chip Memori Global
Raja Chip Dunia Kembali, Jepang Kejar 40 Triliun Yen Semikonduktor di Era AI
Serangga Kecil dari Tanzania Bisa Dongkrak Produksi Sawit Indonesia 10–15 Persen