Sulawesitoday - Pony AI lagi senang. Akhirnya. Untuk kali pertama dalam sejarah startup robotaxi itu, laporannya hijau. Ada untungnya. Tidak tanggung-tanggung: US$ 75,5 juta. Kalau dirupiahkan? Sekitar Rp 1,28 triliun. Hanya dalam tiga bulan.
Tapi, jangan bayangkan untung itu datang dari tarif taksi tanpa sopir. Belum. Belum dari situ.
Pony AI ternyata lihai bermain mata dengan investasi. Mereka punya simpanan di perusahaan desain chip Tiongkok: Moore Threads. Begitu Moore Threads melantai di bursa saham (IPO) Desember lalu, harganya terbang. Melonjak 425 persen!
Itulah "durian runtuh" bagi Pony AI. Investasi awal yang mereka tanam untuk mempercepat komersialisasi, justru memberi napas panjang sebelum bisnis utamanya benar-benar matang.
CFO-nya, Leo Wang, sampai bilang begini: "Kami melakukan investasi awal memang untuk mempercepat komersialisasi kami." Strategi yang cerdik. Sambil menunggu teknologi robotaxi jadi duit, mereka memanen hasil dari ekosistemnya sendiri.
Pasar yang Kejam
Namun, bursa saham itu kejam. Begitu laporan keuangan keluar hari Kamis, besoknya—Jumat—saham Pony AI di Hong Kong malah anjlok. Turun 16 persen.
Kenapa?
Para analis rupanya punya ekspektasi tinggi. Laba kotor kuartal keempat mereka "hanya" US$ 3,71 juta. Padahal ramalan analis harusnya US$ 3,98 juta. Meleset sedikit saja, pasar langsung menghukum. Investor tidak mau hanya melihat untung dari "main saham". Mereka ingin melihat robotaxi-nya benar-benar narik penumpang dengan efisien.
Padahal, secara tahunan, rapor Pony AI tidak jelek. Kerugian mereka berkurang drastis, sampai 72 persen. Pendapatannya pun naik 20 persen menjadi US$ 90 juta.
Balapan Tanpa Sopir
Dunia robotaxi sekarang memang lagi panas-panasnya. Bukan cuma di Tiongkok, tapi global.
Lihat saja Waymo milik Alphabet (induk Google). Mereka sudah ekspansi ke 10 kota di Amerika. Di Tiongkok, Pony AI tidak sendirian. Ada WeRide, ada Apollo Go milik raksasa Baidu.
Strateginya sekarang: kolaborasi. Pony AI mulai gandengan dengan Uber dan Lyft. Mereka menyasar pasar Timur Tengah hingga Inggris. Targetnya ambisius: tahun ini harus beroperasi di lebih dari 20 kota di seluruh dunia. Armadanya? Bakal digas sampai 3.000 unit.
Artikel Terkait
Kiamat Trafik Manusia, AI dan Bot Resmi Ambil Alih Kendali Seluruh Jagat Internet
Bocor! Cara Pakai AI WhatsApp untuk Koreksi Kalimat dan Hapus Objek Foto Otomatis
75 Ribu Jamaah Bakal Banjiri Palu, Kapolda Sulteng: Haul Guru Tua Milik Kita Bersama!
Audit Bukan Momok, Siasat Inspektorat dan BPK Perkuat Benteng Keuangan Parigi Moutong
TikTok Setengah Patuh, Peta Jalan Baru Meutya Hafid Lindungi Anak di PP Tunas 2026