CEO Pony AI, James Peng, tetap optimis. Meski sempat ada jeda karena situasi perang di Iran, bisnis jalan terus. Di Dubai, izin operasi penuh tanpa pengemudi (driverless) diprediksi turun dalam hitungan hari. Di Doha, operasi sudah jalan lagi.
Bahkan di Eropa, Pony AI mau jadi pionir. Mereka bakal masuk ke Zagreb, Kroasia. Kalau lancar, Zagreb akan jadi kota Eropa pertama yang punya layanan taksi otonom berbayar. Luar biasa.
Mengejar Titik Impas
Kuncinya ada di Tiongkok Selatan: Guangzhou dan Shenzhen. Di sana, Pony AI sudah menggunakan model robotaxi generasi ke-7. Hasilnya? Sudah Break Even Point (BEP) alias titik impas per kendaraan.
Model bisnis di dua kota itulah yang akan di-fotokopi ke seluruh dunia. Juga ke kota-kota lain di Tiongkok seperti Hangzhou dan Changsha.
James Peng punya hitung-hitungan: kalau armada di sebuah kota sudah mencapai ratusan unit dan sepenuhnya tanpa sopir, keuntungan akan datang dengan sendirinya. Mungkin secepat-cepatnya tahun depan.
"Fondasi yang kami bangun di Tiongkok akan jadi mesin pertumbuhan di pasar luar negeri," tegas Peng.
Pony AI kini punya dua mesin: satu mesin teknologi robotaxi, satu lagi mesin investasi chip yang gurih. Kita lihat saja, mana yang lebih dulu membawa mereka terbang tinggi tanpa perlu bantuan "durian runtuh" lagi.
TikTok Setengah Patuh, Peta Jalan Baru Meutya Hafid Lindungi Anak di PP Tunas 2026
Artikel Terkait
Kiamat Trafik Manusia, AI dan Bot Resmi Ambil Alih Kendali Seluruh Jagat Internet
Bocor! Cara Pakai AI WhatsApp untuk Koreksi Kalimat dan Hapus Objek Foto Otomatis
75 Ribu Jamaah Bakal Banjiri Palu, Kapolda Sulteng: Haul Guru Tua Milik Kita Bersama!
Audit Bukan Momok, Siasat Inspektorat dan BPK Perkuat Benteng Keuangan Parigi Moutong
TikTok Setengah Patuh, Peta Jalan Baru Meutya Hafid Lindungi Anak di PP Tunas 2026