View this post on Instagram
Sulawesitoday - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto memiliki ingatan yang sangat kuat terhadap detail angka laporan program dari para menterinya. Karakter ini membuat jajaran kabinet tidak berani memanipulasi data atau berbohong saat rapat koordinasi. Pengakuan tersebut disampaikan Menkeu Purbaya dalam tayangan podcast Curhat Bang Denny Sumargo yang disiarkan pada Jumat, 3 Juli 2026.
Purbaya menegaskan komunikasi di internal kabinet terjalin sangat intensif, mematahkan persepsi publik bahwa para pejabat berjalan sendiri-sendiri. Koordinasi berkala biasanya melibatkan 10 hingga 12 menteri dari sektor-sektor strategis, termasuk Kementerian Keuangan untuk memastikan ketersediaan anggaran program kerja.
Karakter Tegas Presiden dalam Rapat Kabinet
Purbaya membeberkan bahwa Presiden Prabowo adalah sosok pemimpin yang adaptif dan mampu melakukan penyesuaian kebijakan dengan sangat cepat. Namun, Presiden juga tidak segan untuk menegur keras menteri yang dinilai lambat dalam mengeksekusi program atau terlalu banyak beralasan teknis.
"Dia orang pintar, cepat sekali adjust-nya. Jadi ada menteri ngomong gini-gini, tiba-tiba bisa marah, 'Kamu gimana? Kenapa lama banget kamu? Kamu saya suruh kenapa minta setahun lagi? Minta studi kelayakan lagi itu minimal setahun?'" kata Purbaya menirukan ucapan Presiden Prabowo.
Ia menambahkan bahwa kejujuran menjadi kunci utama dalam melaporkan kondisi di lapangan kepada Presiden. Jika suatu program menghadapi kendala atau berdampak buruk, menteri harus menyampaikannya secara apa adanya agar keputusan tepat bisa segera diambil.
Tarik Ulur Batas Defisit APBN
Menkeu Purbaya menepis kekhawatiran publik yang menilai pemerintah akan mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara ceroboh hingga menembus batas defisit fiskal 4 persen. Menurutnya, Presiden sangat terbuka terhadap masukan dan argumen yang rasional mengenai stabilitas makroekonomi.
Berikut adalah kronologi perumusan kebijakan defisit APBN antara Presiden dan Menkeu:
- Usulan Awal: Presiden sempat mempertimbangkan opsi melonggarkan defisit APBN hingga menembus angka 4 persen demi memacu pertumbuhan.
- Saran Menkeu: Purbaya mengingatkan bahwa melampaui batas psikologis 3 persen akan memicu sentimen negatif pasar, merusak stabilitas, dan mengundang kritik publik. Defisit tinggi baru logis diambil jika pertumbuhan ekonomi sudah melesat di angka 7 hingga 8 persen.
- Respons Presiden: Presiden Prabowo langsung mengubah arah kebijakan dan bahkan sempat meminta agar defisit ditekan hingga 0 persen (anggaran berimbang).
- Keputusan Akhir: Menkeu menyarankan agar defisit tidak langsung nol karena ekonomi masih membutuhkan stimulus fiskal. Pemerintah akhirnya sepakat menurunkan angka defisit secara bertahap dan terukur.
Strategi Ekonomi Era Prabowo: Sumitronomics
Dalam hal arah pembangunan jangka panjang, Purbaya memastikan bahwa Presiden Prabowo Subianto menerapkan strategi ekonomi Sumitronomics. Strategi ini mengacu pada pemikiran begawan ekonomi Indonesia sekaligus ayah kandung Prabowo, Sumitro Djojohadikusumo.
Terdapat tiga pilar utama dalam implementasi strategi Sumitronomics di era pemerintahan saat ini:
- Stabilitas: Menjaga fondasi makroekonomi dan nilai tukar agar tetap aman dari guncangan global.
- Pertumbuhan: Mendorong investasi dan proyek strategis yang mampu menggerakkan roda ekonomi nasional.
- Pemerataan: Memastikan program-program kesejahteraan menyentuh masyarakat lapisan bawah demi menekan ketimpangan.
Purbaya menegaskan bahwa setiap arah kebijakan baru pasti memiliki risiko. Namun, pemerintah memilih mengambil risiko terukur demi perbaikan struktur ekonomi di masa depan, daripada mempertahankan pola lama yang terbukti tidak produktif.