Sulawesitoday - Langkah CEO Intel, Pat Gelsinger, dalam merevitalisasi raksasa teknologi ini menghadapi tantangan besar.
Dalam pernyataannya, Gelsinger menyebut bahwa "ketergantungan manufaktur pada Taiwan membawa risiko besar," yang langsung memicu reaksi keras dari Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC).
Baca Juga: Maraton Pemeriksaan Korupsi Sawit, Dari Dokumen PT SJA hingga Petinggi AALI
Keputusan TSMC untuk mencabut diskon 40 persen pada wafer 3-nanometer menjadi pukulan telak bagi Intel. Padahal, pasokan ini merupakan inti dari lini manufaktur AI yang sedang digarap perusahaan.
Kerugian langsung terlihat, dengan margin keuntungan yang menyusut drastis. Bahkan, ada pihak yang menilai bahwa Intel perlahan menuju kebangkrutan, terutama karena proyek AI mereka belum menghasilkan dampak signifikan.
Penurunan pendapatan yang dialami Intel pada 2023 sangat mengkhawatirkan. Angka $54 miliar (sekitar Rp849 triliun) tercatat sebagai penurunan terbesar dalam satu dekade terakhir. Selain itu, Intel harus menghadapi kerugian bersih sebesar $3,68 miliar, membuat posisi Gelsinger semakin terdesak.
Dalam dunia bisnis yang penuh tekanan, keputusan strategis yang salah sering kali berdampak jauh lebih besar daripada yang diperkirakan.
Namun, tidak semua pihak sepakat menyalahkan Gelsinger. Beberapa analis di Silicon Valley menyebut bahwa persaingan ketat dengan Nvidia dan AMD sudah cukup membuat Intel kewalahan.
"Pasar chip AI bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang kepercayaan pasar," ungkap salah satu pakar industri. Keputusan TSMC untuk memutus diskon tentu saja tidak membantu upaya pemulihan Intel.
Terlepas dari tantangan ini, Gelsinger tetap berkomitmen pada visinya. Chip 18A yang sedang dikembangkan diharapkan bisa menjadi kunci kebangkitan Intel. Namun, proyek ini tidak tanpa kendala.
Masalah teknis terus bermunculan, ditambah lagi dengan keengganan pelanggan seperti Apple dan Qualcomm untuk menggunakan teknologi terbaru Intel.
Ironisnya, meskipun menghadapi kesulitan besar, Gelsinger berhasil mendapatkan subsidi dari pemerintah AS untuk mempercepat produksi chip tersebut. Pembangunan pabrik baru di Ohio juga menjadi bukti bahwa Intel belum sepenuhnya kehilangan arah.
Tetapi, publik dan investor terus mempertanyakan: apakah ambisi ini cukup untuk mengembalikan kejayaan Intel di pasar global?
Intel saat ini berada di persimpangan jalan. Sementara masa depan chip AI menjanjikan peluang besar, langkah kecil seperti komentar publik yang ceroboh bisa berujung fatal.