Benteng tertua di dunia
Sebuah penemuan arkeologi baru-baru ini telah mengguncang dunia akademis. Sebuah tim internasional yang dipimpin Arkeolog dari Freie Universität Berlin mengumumkan penemuan benteng prasejarah di Siberia yang diakui sebagai benteng tertua di dunia.
Temuan ini mengubah pemahaman tentang perkembangan manusia purba, menantang keyakinan bahwa hanya dengan munculnya pertanian, manusia mulai membangun permukiman permanen dengan arsitektur monumental dan struktur sosial kompleks.
Hasil penelitian, yang dipublikasikan dalam jurnal Antiquity pada awal Desember dengan judul "The World's Oldest-Known Promontory Fort: Amnya and the Acceleration of Hunter-Gatherer Diversity in Siberia 8000 Years Ago," menyoroti permukiman berbenteng di Amnya sebagai benteng Zaman Batu paling utara di Eurasia.
Menurut Tanja Schreiber, seorang arkeolog di Institut Arkeologi Prasejarah di Berlin, situs prasejarah ini berhasil diidentifikasi sebagai benteng tertua di dunia setelah pemeriksaan arkeologi terperinci dan pengumpulan sampel untuk penanggalan radiokarbon.
Pentingnya penemuan ini juga terletak pada fakta bahwa struktur pertahanan kompleks ini dibangun lebih kurang 8.000 tahun yang lalu oleh kelompok pemburu-pengumpul di Siberia.
Ini menggambarkan bahwa manusia prasejarah telah mengembangkan permukiman permanen dengan struktur pertahanan bahkan sebelum munculnya pertanian.
Studi ini juga mengungkap gaya hidup maju dari penduduk Siberia Barat pada masa itu. Dengan sumber daya melimpah dari lingkungan, mereka mencari kehidupan dengan menangkap ikan dan berburu rusa menggunakan alat-alat primitif seperti tombak berujung batu dan tulang. Kelebihan minyak ikan dan daging diawetkan dalam tembikar yang dihias dengan rumit.
Temuan ini memicu pertanyaan baru tentang sifat kompetitif dan konflik dalam masyarakat pemburu-pengumpul. Permukiman berbenteng yang menghadap ke sungai mungkin menjadi lokasi strategis untuk mengontrol dan mengeksploitasi tempat penangkapan ikan yang produktif.
Ini menantang pandangan tradisional bahwa kompleksitas masyarakat hanya muncul bersamaan dengan perkembangan pertanian dan peternakan.
Saat ini, ada setidaknya 10 situs benteng Zaman Batu diketahui dengan kemampuan arsitektur dan pertahanan yang canggih. Temuan ini membuka wawasan baru tentang perkembangan manusia purba, memberikan wawasan yang lebih dalam tentang evolusi sosial dan teknologi pada masa itu.