Sulawesitoday - Pada tanggal 29 Desember 1777, seorang penjelajah ulung asal Inggris, Kapten James Cook, menjadi saksi mata gerhana matahari cincin yang spektakuler.
Kapten Cook, yang sedang melaksanakan pelayaran ketiganya melintasi Samudra Pasifik, menemukan fenomena langit yang menakjubkan saat bulan melintas di depan matahari.
Ekspedisi yang dimulai pada tahun 1776 ini memiliki tujuan besar untuk menemukan Jalur Barat Laut menuju Asia. Kapten Cook dan krunya menjelajahi perairan yang belum terpetakan, mengelilingi ujung selatan Afrika, dan mengelilingi daratan Australia.
Pada pagi yang menentukan tanggal 29 Desember, kapten dan krunya menyaksikan bulan bergerak di depan matahari, menciptakan pemandangan yang disebut sebagai 'cincin api' di langit.
Fenomena ini, kemudian dikenal sebagai gerhana matahari cincin, terjadi ketika bulan berada di antara bumi dan matahari, tetapi pada jarak yang cukup jauh sehingga tidak sepenuhnya menutupi matahari, menciptakan cincin cahaya yang menakjubkan.
Gerhana matahari cincin, atau yang juga dikenal sebagai gerhana cincin api, merupakan hasil dari peristiwa langka di alam semesta.
Saat bulan hanya melewati sebagian matahari, fenomena ini disebut sebagai gerhana matahari sebagian. Penyebutan "cincin api" merujuk pada efek cahaya yang membentuk cincin bersinar di sekitar bulan yang melintas.
Fenomena ini, seperti dijelaskan oleh Space.com, terjadi ketika bulan berada pada posisi yang tepat untuk melewati sebagian matahari dari perspektif bumi.
Saksi mata Kapten Cook menciptakan catatan bersejarah, menambah wawasan kita tentang keajaiban alam semesta. Informasi ini memberikan pandangan yang menarik tentang penjelajahan laut pada abad ke-18 dan sekaligus menyaksikan peristiwa langka di langit biru.
Baca juga: Proyek Kuiper Amazon Sukses Uji Coba Penting, Bersaing dengan Starlink Milik SpaceX