Sulawesitoday - Lantai besi peron Stasiun Kebayoran yang dingin menyimpan kengerian bagi penumpang kereta rel listrik (KRL). Seorang pria tertangkap kamera bersembunyi di kolong rel, mengincar ruang di bawah rok para penumpang wanita.
Peristiwa ini meledak setelah akun @andinewst membagikan pengalamannya di platform Threads. Sabtu malam, 2 Mei lalu, suasana stasiun yang remang menjadi panggung bagi aksi cabul tersebut.
Korban saat itu sedang berdiri di ambang pintu gerbong khusus wanita menuju Tanah Abang. Matanya tak sengaja menangkap bayangan sepasang sandal hitam di celah sempit antara kereta dan lantai peron.
Baca Juga: Predator di Balik Ponpes Pati, Polisi Tetapkan Kiai Tersangka Pelecehan Seksual
Rasa penasaran berubah menjadi horor ketika ia menyadari ada sosok pria mendekam di sana. Ponsel pelaku mengarah tepat ke atas, merekam bagian privasi penumpang yang sedang melangkah naik.
"Dia sembunyi di bawah peron sambil mengarahkan HP dan mengintip," tulis korban dalam unggahanya. Teriakan histeris korban sempat memicu perhatian penumpang lain, namun pelaku cepat-cepat merayap mundur ke kegelapan.
Ironisnya, saat kegaduhan pecah, tak nampak batang hidung petugas keamanan di sekitar lokasi. Pintu kereta yang tertup rapat memaksa korban membawa rasa trauma itu hingga stasiun berikutnya.
Bukti rekaman video memperlihatkan dengan jelas siluet tubuh manusia di bawah struktur besi tersebut. Pihak KAI Commuter menduga pelaku menyusup melalui area pintu rel saat matahari mulai terbenam.
Baca Juga: Bukan Maling Biasa, Seekor Monyet Gasak Spion Motor Mahasiswi Hanya untuk Bersolek
Cerita ini rupanya bukan isapan jempol belaka bagi pengguna rutin jalur Rangkasbitung. Penumpang lain mengaku pernah melihat pria yang sama melakukan aksi eksibisionis di lokasi serupa.
Celah di Peron 3 yang jarang digunakan diduga kuat menjadi pintu masuk sang predator. Minimnya pengawasan di titik buta stasiun membuat pelaku leluasa melancarkan aksi bejatnya berkali-kali.
Pihak manajemen KRL kini tengah memburu identitas pria misterius yang meresahkan para komuter itu. Mereka berjanji meningkatkan patroli dan memastikan tidak ada toleransi bagi kekerasan seksual di transportasi publik.