Sulawesitoday - Kementerian Kebudayaan menelusuri jejak Syekh Yusuf. Upaya ini menguak jaringan maritim penyebaran Islam yang menghubungkan Makassar, Donggala, hingga Manado.
Tim kebudayaan mengumpulkan data sejarah. "Survei ini memetakan jaringan ulama," kata A. Sulkarnaen pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Pelabuhan Donggala memegang peran kunci. Wilayah pesisir Selat Makassar ini menjadi pintu masuk utama bagi pergerakan murid ulama besar abad ke-17.
Tradisi lisan masyarakat memuat fakta unik. Warga Tawaeli meyakini sosok Daeng Kondang sebagai penyebar syiar agama asal Mandar di tanah Kaili.
Kawasan Wani menjadi titik lokasi perjumpaan. Pelabuhan di Teluk Palu ini mempertemukan pedagang dan tokoh agama dari berbagai penjuru maritim.
Baca Juga: Larang Peringatan Setahun Kematian Affan Kurniawan, Keluarga Minta Doa Tanpa Aksi
Pengurus PWI Sulawesi Tengah memberi masukan. "Jalur pelayaran maritim menyimpan banyak cerita sejarah," ucap Sekretaris PWI Sulteng Temu Sutrisno.
Penelusuran ini melintasi batas daerah. Penyebaran gagasan keagamaan tidak terikat oleh wilayah administratif pemerintahan pada masa modern.
Komunitas Cikoang di Palu menjaga tradisi. Masyarakat lokal masih menjalankan ajaran tarekat Khalwatiyah yang diwariskan secara turun temurun.
Penyebaran Islam bergerak tiga gelombang. Kedatangan Dato Karama disusul mubalig Bugis serta tokoh Guru Tua yang memperkuat tradisi keagamaan.
Hasil diskusi menjadi bahan agenda penting. "Informasi ini mendukung acara Temu Narasi Syekh Yusuf Al-Makassari," tutur perwakilan tim kementerian Hafsah.