berita

Siswi Korban Keracunan MBG di Karo Trauma: Saya Sudah Tidak Mau Makan MBG Lagi

Senin, 17 Agustus 2026 | 06:48 WIB
Siswi korban keracunan MBG di Karo menangis histeris menolak makan lagi saat Kepala BGN Sudaryono meninjau korban di rumah sakit pada Minggu 16 Agustus 2026.

@sulawesitodaycom

Seorang siswi SMA di Karo Sumatra Utara mengalami trauma berat sampai menangis dan bersumpah tak mau lagi menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kejadian ini buntut dari keracunan massal yang bikin puluhan pelajar harus dilarikan ke rumah sakit usai menyantap hidangan olahan ikan. Kepala BGN Sudaryono yang turun langsung ke lokasi mengakui adanya kelalaian fatal karena bahan ikan dibiarkan di luar ruang pendingin lebih dari 12 jam. Akibat kejadian ini, dapur penyuplai MBG di kawasan tersebut resmi ditutup dan kepalanya langsung dicopot dari jabatan. Ikuti terus pembaruan informasi terkini lewat akun medsos official portal web Sulawesitodaydotcom.

♬ Extraordinary Reflection - Astralis

Isak tangis seorang siswi SMA Negeri 1 Berastagi pecah di ruang perawatan Rumah Sakit Efarina Etaham Kabupaten Karo. Remaja perempuan itu bersumpah tidak akan pernah lagi menyantap hidangan program Makan Bergizi Gratis usai menjadi korban keracunan massal.

"Saya sudah tidak mau makan MBG lagi," kata siswi tersebut saat ditanya Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono di Rumah Sakit Efarina Etaham Kabupaten Karo Minggu 16 Agustus 2026.

Trauma mendalam kini membayang dalam ingatan korban keracunan. Rasa takut tersebut membuat korban enggan melihat piring makan di rumah.

Keluarga korban menuntut kepastian jenis racun yang masuk ke tubuh anak mereka. Penjelasan rinci mengenai kandungan berbahaya dalam hidangan ikan sangat dibutuhkan untuk proses pemulihan.

Ibu korban meluapkan emosi saat bertemu pejabat pemerintah secara langsung. Kekecewaan memuncak karena penjelasan medis dianggap belum transparan.

Baca Juga: Ratusan Siswa Karo Keracunan MBG, Kepala BGN Ancam Pecat Pengelola Dapur

"Tolong Pak, permintaan maaf Bapak tidak mengubah keadaan, apa sebenarnya racun yang dimakan anak saya?" kata ibu korban kepada Sudaryono.

Penanganan medis darurat terus berlanjut di beberapa fasilitas kesehatan. Korban mengalami mual hebat serta gatal gatal usai menyantap makanan program pemerintah.

Gejala awal muncul berbarengan dengan rasa sesak napas yang parah. Kondisi kesehatan pasien sempat memburuk hingga harus dirawat ulang.

Pihak Badan Gizi Nasional mengakui adanya kelalaian prosedur pengolahan pangan. Bahan baku ikan dibiarkan tanpa pendingin selama lebih dari 12 jam.

"Kalau penyebabnya berasal dari ikan yang tidak diletakkan di ruang pendingin lebih dari 12 jam," kata Kepala BGN Sudaryono.

Tindakan tegas diambil dengan menutup operasional dapur penyuplai makanan. Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi resmi dicopot dari jabatannya.

Sanksi administratif belum menyelesaikan persoalan mendasar tentang keamanan pangan. Puluhan anak masih terbaring lemah di ruang perawatan rumah sakit.

Halaman:

Tags

Terkini