Sulawesitoday - Kia sudah bulat. Komitmennya jelas: listrik. Tapi Kia tidak mau grasa-grusu. Mereka pilih jalan yang lebih fundamental.
Namanya Plan S. Itu strategi global mereka. Huruf "S" itu bukan berarti "Segera" atau "Sok-sokan". S itu Strategy. Di Indonesia, strategi itu diterjemahkan dengan kata kunci: bertahap.
Rabu lalu, di Jakarta, bos Kia Sales Indonesia, Bayu Riyanto, bicara blak-blakan. Intinya satu: Indonesia itu pasar penting. Maka, membangun ekosistem EV tidak boleh asal jadi. Harus sehat. Harus relevan.
Saya melihat Kia punya "senjata" yang tidak main-main. Namanya E-GMP. Singkatan dari Electric-Global Modular Platform. Ini bukan sekadar rangka mobil. Ini adalah "meja kerja" yang bisa dibuat apa saja.
Mau bikin mobil kencang? Bisa. Mau bikin MPV yang muat banyak keluarga? Sangat bisa.
Di sinilah pintarnya Kia. Mereka tahu karakter orang kita. Kita ini suka pergi bareng-bareng. Maka, Kia menyiapkan segmen MPV listrik. Inilah yang saya sebut relevansi. Teknologi setinggi langit kalau tidak cocok dengan kebutuhan ibu-ibu dan anak-anak di Indonesia, ya buat apa?
Platform E-GMP itu memang ajaib. Baterainya diletakkan sedemikian rupa sehingga bobotnya seimbang. Stabil. Nyaman. Itulah fondasinya. Tanpa fondasi yang kuat, jualan mobil listrik hanya akan jadi tren sesaat.
Kia tidak mau begitu.
Maka, mereka melihat elektrifikasi sebagai perjalanan panjang. Bukan lari sprint 100 meter yang bikin napas ngos-ngosan di tengah jalan. Mereka pilih maraton. Menata kualitas produk dulu. Menyiapkan teknologi dulu. Baru kemudian perluasan portofolio.
Apakah ini lambat?
Bagi saya, ini justru langkah taktis. Daripada jualan masif tapi infrastrukturnya kedodoran, lebih baik membangun ekosistem secara presisi. Kia memantau pasar. Mereka melihat kesiapan kita.
"Kami akan terus bergerak secara bertahap dan adaptif," kata Bayu.
Kalimat itu penting: adaptif. Artinya, Kia tidak akan memaksakan teknologi global jika pasar lokal belum siap. Tapi, begitu pasar siap, teknologinya sudah ada di kantong.