Dampaknya ngeri-ngeri sedap. Kemampuan memahami informasi jadi dangkal. Orang hanya tahu kulitnya, tanpa tahu isinya.
Maka, pilihannya cuma satu: latihan lagi. Siswa-siswa itu disarankan kembali ke cara lama. Membaca buku teks secara utuh. Membaca artikel berita yang panjangnya berlembar-lembar.
Tujuannya? Melatih otot fokus yang sudah mulai kendor.
Di Korea saja sudah begini, bagaimana dengan di Indonesia? Saya belum lihat datanya. Tapi rasanya, kita tidak perlu jauh-jauh ke Seoul untuk melihat anak muda yang lebih betah memelototi reels daripada membaca buku sejarah.
Teknologi memang maju. Tapi kalau rentang perhatian kita makin pendek, apakah kita benar-benar bergerak maju?
Atau kita sedang menuju generasi yang hanya tahu judul, tapi gagap memahami isi?
Tips HP Anti Lemot untuk Foto Lebaran, 9 Cara Mudah Hapus Sampah Digital di Android