Sulawesitoday - Ruang sidang DPR dipenuhi tawa. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melempar sindiran pedas. Target? Ketua Badan Anggaran DPR Said Abdullah. Momen kocak ini terjadi saat pembahasan RAPBN 2026, Senin (23/9/2025).
Perdebatan bermula dari usulan sederhana. Said Abdullah meminta penambahan alokasi minyak goreng dalam bantuan sosial. Dari 1 liter menjadi 2 liter. Permintaan wajar, bukan?
Namun respons Menkeu justru mengejutkan. Purbaya tidak langsung menyetujui. Malah melempar tantangan berani. "Kenapa cuma 2 liter? Lima liter aja sekalian!" ucap Purbaya dengan nada menantang.
-
Bagaimana Awal Mula Perdebatan Ini Terjadi?
Kronologi dimulai dari rencana bansos pemerintah. Paket bantuan mencakup 10 kg beras per bulan selama dua bulan. Plus 1 liter minyak goreng. Sederhana, namun cukup membantu masyarakat menengah ke bawah.
Said Abdullah merasa kurang. Ia mengajukan revisi alokasi minyak goreng. Dari 1 liter menjadi 2 liter. Usulan masuk akal mengingat kebutuhan rumah tangga yang beragam.
Respons Purbaya mengundang decak kagum. Menkeu tidak menolak mentah-mentah. Justru memberikan pilihan lebih ekstrem. "Tadinya pemerintah butuh dua bulan 10 kg beras masing-masing bulan, terus 1 liter minyak goreng. Pak Said minta 2, saya challenge, ya sudah 5 liter aja sekalian," jelas Purbaya.
Tantangan ini seperti tes keberanian. Apakah Said Abdullah siap bertanggung jawab atas konsekuensi anggaran yang lebih besar?
-
Mengapa Said Abdullah Menolak Tantangan Menkeu?
Ternyata Said Abdullah mundur. Ia tetap pada usulan awal: 2 liter. Tidak berani mengambil resiko 5 liter. Keputusan pragmatis yang mengundang sindiran Purbaya.
"Yang enggak berani Pak Said rupanya," kata Purbaya sambil tersenyum. "Jangan salahkan saya, Pak Said enggak berani. Saya minta 2 liter aja, ya sudah saya kasih 2 liter."
Pernyataan ini memicu gelak tawa hadirin. Suasana sidang yang biasanya formal mendadak mencair. Drama politik anggaran berubah menjadi komedi ringan.
Said Abdullah merespons dengan santai. Ia malah memuji gaya kepemimpinan "koboi" Menkeu. Strategi diplomasi yang cerdik untuk meredakan ketegangan.
-
Apa Filosofi di Balik Kebijakan Anggaran Purbaya?
Menkeu mengungkap filosofi pengelolaan anggaran. Daripada membiarkan dana mengendap di Bank Indonesia, lebih baik disalurkan langsung. Prinsip sederhana: uang negara harus mengalir untuk kemakmuran rakyat.
"Daripada anggaran tak terserap mengendap di rekening pemerintah, lebih baik dialihkan jadi subsidi atau bansos," tegas Purbaya.
Program bansos minyak goreng ini bersifat percobaan. Pemerintah akan mengevaluasi dampaknya secara berkala. Pendekatan pragmatis yang mengutamakan fleksibilitas kebijakan.
Artikel Terkait
Error Growin Mandiri Sekuritas Bikin Nasabah Panik, Platform Trading Mogok Saat Market Buka - Begini Kronologinya
Dendam Utang Berujung Pembunuhan: Nasabah PNM Bunuh Kolektor di Pasangkayu
Tragedi Mi Instan di Cakung, Suami Terancam Hukuman Mati Usai Bakar Istri hingga Tewas
Menteri Purbaya Berantas Rokok Ilegal Berskala Nasional, Target Supplier Besar hingga Internal Bea Cukai
Geram Warga Barabai Usai Bayi 7 Hari Dibanting Hingga Tewas, Keluarga Tuntut Hukuman Maksimal