Sulawesitoday - Dulu, orang takut ikut asuransi. Bayarnya rajin, klaimnya susah. Atau, perusahaannya yang tiba-tiba "sakit".
Indonesia Financial Group (IFG) tidak ingin itu terulang. Tidak boleh.
Maka, mereka kini punya "mantra" baru: Customer Centricity. Istilah kerennya begitu. Intinya sederhana saja: menempatkan nasabah di kursi paling depan. Di pusat segala keputusan.
Tapi, bagaimana caranya agar itu bukan sekadar jargon di atas kertas?
Jawabannya satu: Tata Kelola. Atau Governance.
Bagi IFG, tata kelola bukan sekadar tumpukan dokumen audit. Bukan pula deretan angka-angka yang memusingkan. Tata kelola adalah fondasi. Tanpa fondasi yang kuat, gedung "kepercayaan" itu pasti ambruk.
Maka, sebagai induk holding BUMN asuransi, IFG melakukan bersih-bersih besar-besaran. Penataan proses bisnis dilakukan. Pengendalian internal diperketat. Manajemen risiko didisiplinkan.
Semuanya harus prudent. Hati-hati.
"Bagi IFG, customer centricity tidak dapat dipisahkan dari tata kelola yang kuat," ujar Denny S. Adji. Beliau Sekretaris Perusahaan di sana.
Kalimatnya lugas.
Artinya: kalau tata kelolanya amburadul, mustahil nasabah bisa dilayani dengan baik. Tanpa transparansi, perlindungan nasabah hanyalah mimpi di siang bolong.
IFG ingin membuktikan bahwa asuransi itu soal kepastian. Soal kenyamanan jangka panjang.
Caranya? Budaya kerja diselaraskan. Teknologi dimanfaatkan. SDM ditingkatkan kualitasnya. Ujung-ujungnya kembali ke sana: agar nasabah merasa tenang. Agar masyarakat kembali percaya pada industri asuransi nasional.