berita

Warga Keluhkan Jalan Gelap, Anggaran Perawatan Lampu Hanya Rp200 Ribu per Titik Setahun

Senin, 20 April 2026 | 17:00 WIB
Anggaran pemeliharaan 247 lampu jalan hanya Rp50 juta setahun. Minimnya dana hambat perbaikan jaringan dan LED, pelayanan publik pun jadi taruhannya.

Sulawesitoday - Mengelola lampu jalan itu ternyata mirip menjaga nyawa di malam hari. Tapi apa jadinya jika nyawa warga hanya dihargai dengan anggaran seharga satu unit mobil bekas?

Itulah realita pahit di dinas teknis kita. Bayangkan saja. Ada 247 titik lampu jalan yang harus terus menyala. Tersebar di seantero kabupaten. Namun, modal untuk merawatnya hanya dijatah Rp50 juta setahun. Angka yang bikin geleng-geleng kepala.

Kalau dihitung kasar, satu titik lampu hanya kebagian jatah "uang jajan" sekitar Rp200 ribu per tahun. Padahal, urusannya bukan cuma ganti bohlam LED. Ada kabel yang sering putus, jaringan yang korslet, hingga gangguan alam yang tak bisa diprediksi.

Kepala Bidang Teknis, Amrin Durming, tampak berusaha tegar meski batinnya mungkin menjerit. "Kalau melihat jumlah titik lampu, anggaran Rp50 juta ini sebenarnya belum cukup," ujarnya dengan nada datar, namun penuh penekanan.

Amrin tahu betul medannya. Masalah lampu jalan bukan sekadar urusan cetek sakelar. Kadang cuaca buruk menghantam. Pohon tumbang menimpa kabel. Atau, gangguan jaringan induk PLN yang di luar kendali mereka. Semua itu butuh biaya. Dan biaya itu mahal.

"Kadang masalahnya bukan hanya pada lampunya, tapi pada jaringan induk atau kabel yang putus karena cuaca," tambah Amrin.

Anehnya, angka Rp50 juta ini seperti sudah jadi "harga mati". Tidak ada kenaikan segnifikan dari tahun ke tahun. Padahal, jumlah titik lampu terus bertambah. Inflasi alat listrik juga tidak bisa diajak kompromi. Di sinilah letak ironinya: pemerintah ingin pelayanan maksimal, tapi dompetnya dikunci rapat-rapat.

Masyarakat tentu tidak mau tahu urusan teknis di kantor dinas. Yang mereka tahu, jalanan harus terang. Gelap berarti rawan kecelakaan. Gelap berarti mengundang kejahatan. Beberapa warga di pelosok bahkan sudah mulai mengeluh. Lampu ada, tapi fungsinya hanya jadi hiasan tiang karena mati berbulan-bulan.

Evaluasi anggaran harusnya bukan sekadar seremoni di meja rapat. Harus ada angka yang riil. Jika tidak, petugas di lapangan hanya akan sibuk "gali lubang tutup lubang". Memperbaiki satu titik dengan cara mempreteli komponen dari titik lain. Tragis.

Pengawasan memang penting agar dana yang secuil itu tidak dikorupsi. Tapi, lebih penting lagi memastikan anggarannya masuk akal. Tanpa penambahan dana yang memadai, jangan harap kabupaten ini bakal benderang di malam hari.

Pemerintah daerah harus memilih: mau terus membiarkan warga dalam kegelapan, atau berani menambah anggaran demi keselamatan publik. Jangan sampai menunggu ada korban jatuh, baru sibuk mencari anggaran tambahan.

Travel Umroh di Majene Ini Tawarkan Paket Sekali Bayar Ibadah Berkali-kali

Tags

Terkini