@sulawesitodaycom Nelayan Parigi Moutong ungkap modus “japre” yang bikin jatah solar subsidi mereka susut tiap isi BBM di SPBU Kampal. Setiap tiga jeriken, satu jeriken diduga jadi “penumpang gelap” pakai barcode nelayan. Polair Polres Parigi Moutong janji usut tuntas dan laporkan ke Kapolres.
♬ suara asli - Menurut Sulawesitoday - Menurut Sulawesitoday
Sulawesitoday - Nelayan di Kabupaten Parigi Moutong mengeluhkan dugaan pemotongan jatah solar bersubsidi melalui modus “japre” saat pengisian bahan bakar di SPBU Kampal.
Keluhan mencuat dalam rapat koordinasi. “Setiap pengisian milik nelayan, ada saja yang potong,” kata pemilik kapal, Hajirin, dalam forum yang digelar Dinas Kelautan dan Perikanan Parigi Moutong bersama pelaku usaha perikanan dan pengelola SPBU, Jumat, 24 Juli 2026.
Modus itu dikenal sebagai japre di lapangan. Praktik ini diduga menyisipkan jeriken tambahan dalam antrean pengisian yang memakai barcode milik nelayan.
Tiga jeriken jadi patokan normal pengisian. Namun kenyataannya, satu jeriken tambahan kerap ikut terisi memakai barcode nelayan yang sama.
Hajirin merinci modus itu secara gamblang. “Dalam setiap pengisian tiga jeriken, ada satu jeriken sebagai penumpang gelap yang disisipkan menggunakan barcode kami sehingga mengurangi jatah para nelayan,” ujarnya.
Baca Juga: Meski Barcode BBM Subsidi Parigi Moutong Diblokir, Aroma Keterlibatan Oknum DKP Tetap Menyengat
Akibatnya jatah solar nelayan menyusut. Kuota BBM bersubsidi yang mestinya utuh untuk melaut justru berkurang tanpa sepengetahuan pemilik barcode.
Keluhan serupa datang dari nelayan lain. Rahmat dan Ivan turut menyampaikan keresahan sama soal pengisian solar bersubsidi di SPBU itu.
Sorotan juga tertuju pada seorang personel Polri. Anggota berinisial MLK disebut aktif bertugas di lingkungan SPBU dan diduga mengatur antrean pengisian solar bersubsidi.
MLK diketahui personel aktif Polsek Parigi. Kehadiran anggota kepolisian pada aktivitas di luar tugas resmi itu dipertanyakan pemilik kapal dan pelaku usaha perikanan.
Keluhan disampaikan secara terbuka di depan banyak pihak. Perwakilan pemerintah daerah, pengelola SPBU, dan aparat kepolisian turut hadir mendengar langsung aspirasi nelayan.
Kasat Polairud Polres Parigi Moutong ikut merespons. AKP Noldy Sualang menyatakan akan menindaklanjuti seluruh laporan dan aspirasi nelayan sesuai mekanisme yang berlaku.
Noldy berjanji meneruskan laporan ke pucuk pimpinan. “Keluhan para nelayan ini akan kami sampaikan kepada Bapak Kapolres Parigi Moutong untuk ditindaklanjuti,” ujarnya.