Sulawesitoday - Sebuah penelitian mendalam oleh seorang sejarawan bernama Prabowo telah mengungkapkan fakta menarik terkait tokoh penerbangan Anthony Fokker, pencipta pesawat tempur Jerman yang mendominasi Perang Dunia I. Dalam temuan terbarunya, Prabowo berhasil menemukan lokasi spesifik tempat kelahiran Fokker di Blitar, Indonesia.
Menurut Prabowo, Anthony Fokker lahir di perkebunan kopi Njoenjoer, Desa Soso, Kecamatan Gandusari, Blitar pada 6 April 1890. Ayah Fokker, Herman Fokker, seorang keturunan keluarga kaya pemilik kapal dan pedagang dari Belanda, memperoleh perkebunan kopi seluas 500 hektare di lereng selatan Gunung Kelud yang kemudian disebut Njoenjoer pada tahun 1880.
Fokker tinggal di Blitar hingga usianya mencapai empat tahun, ketika keluarganya memutuskan untuk kembali ke Belanda untuk memberikan pendidikan yang lebih baik. Perkebunan Njoenjoer sendiri dijual pada tahun 1896 kepada keluarga Philip Evers dari Den Haag dan mengalami nasib tragis akibat letusan gunung berapi Kelud pada Mei 1901.
Sebagai seorang remaja, Fokker menunjukkan bakat dalam desain dan pembuatan. Ia berangkat ke Jerman untuk belajar desain mobil, tetapi tertarik pada pesawat terbang. Pada tahun 1910, Fokker menciptakan pesawat pertamanya, "de Spin," yang menjadi awal karirnya dalam dunia penerbangan.
Fokker Aeroplane Bau, perusahaan yang didirikannya pada tahun 1912 di Jerman, menjadi terkenal saat Perang Dunia I dimulai. Pesawat buatannya diminati oleh Korps Udara Jerman, dan kontrak militer menghasilkan sekitar 700 pesawat tempur yang dibuat khusus untuk perang.
Setelah perang, Fokker pindah ke Amerika Serikat pada tahun 1922 dan mendirikan kembali perusahaannya sebagai "Fokker Aircraft Corporation." Namun, hanya sembilan bulan setelah kedatangannya, Anthony Fokker meninggal dunia pada 23 Desember 1939 akibat penyakit pneumococcal meningitis.
Anthony Fokker, dengan kontribusinya yang besar dalam pengembangan pesawat tempur, meninggalkan warisan yang mengubah dunia penerbangan. Dari Blitar hingga ke Jerman dan Amerika Serikat, perjalanan hidupnya mengilhami generasi-generasi penerbang dan insinyur penerbangan.
Baca juga: Apakah foto Letnan Kolonel Albert William Stevens 30 Desember 1930 membuktikan keberadaan lengkungan bumi?