edukasi-kamu

Dialog Langit: Ketika Para Nabi Berbeda Cara Pandang

Senin, 27 Januari 2025 | 20:37 WIB
Mengungkap pertemuan para nabi, momen emosional Nabi Muhammad SAW, dan makna keagungan Allah dalam konsep Islam.

Sulawesitoday - Setiap nabi memiliki cara pandang unik dalam menghadapi umatnya. Dalam kisah spiritual yang digambarkan oleh Allah Taala, terlihat bagaimana pendekatan masing-masing nabi mencerminkan kepribadian dan misi mereka.

Nabi Ibrahim AS, misalnya, dikenal dengan kasih sayangnya yang melimpah. Dalam doanya, beliau selalu memohon ampunan bagi mereka yang belum mengikuti kebenaran. "Ya Allah, mereka yang bersama saya, tuntunlah mereka. Sedangkan mereka yang belum, mohon ampuni dosa-dosa mereka," begitulah kira-kira doa Nabi Ibrahim.

Berbeda dengan Nabi Nuh AS yang terkenal dengan ketegasannya. Ketika menghadapi umat yang menolak dakwahnya, beliau dengan penuh keyakinan menyerahkan keputusan kepada Allah. Lalu ada Nabi Isa AS, yang menunjukkan pengabdian murni kepada Tuhan. Dalam menghadapi orang-orang yang menyimpang, Nabi Isa berujar, "Jika Engkau hendak menghukum mereka, itu hak-Mu, ya Allah. Namun jika Engkau mengampuni mereka, itu juga bagian dari kebesaran-Mu."

Menariknya, Nabi Muhammad SAW, pemimpin umat akhir zaman, mengambil inspirasi dari sikap Nabi Isa. Beliau pernah bersabda, “Saya akan bersikap seperti hamba Allah yang saleh, sebagaimana Nabi Isa.” Sikap ini menunjukkan betapa dalamnya sifat belas kasih dan tawakal Rasulullah.

Momen Haru Bertemu Nabi Ibrahim

Di balik perjalanan spiritual Isra Mi’raj, terdapat momen emosional yang menggugah hati. Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Ibrahim AS di Sidratul Muntaha. Pertemuan ini lebih dari sekadar perjumpaan antara dua nabi besar; ini adalah reuni seorang cucu dengan leluhurnya.

Baca Juga: Belajar Tawaduk dan Hikmah dari Perjalanan Mikraj Rasulullah SAW

Dalam hadis, Rasulullah menggambarkan kegembiraan Nabi Ibrahim ketika bertemu dengan beliau. "Kamu adalah cucu yang paling mirip denganku," ujar Nabi Ibrahim penuh haru. Hubungan ini terasa begitu mendalam, mengingat Nabi Muhammad merupakan penerus syariat yang melanjutkan ajaran Nabi Ibrahim. Tak heran, dalam banyak doa, umat Islam menyebut nama Nabi Ibrahim: “Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, kama shallaita ‘ala Sayyidina Ibrahim.”

Keagungan Allah yang Tak Terbatas

Namun, yang paling menakjubkan dari perjalanan Isra Mi’raj adalah pengajaran tentang Allah Taala. Dalam akidah Ahlusunah wal Jamaah yang dianut mayoritas umat Islam, Allah digambarkan sebagai Zat yang Maha Suci (‘Subhanallah’), bebas dari keterbatasan manusia. Allah tidak butuh tempat, tidak terikat oleh waktu, dan tidak bergantung pada makhluk apa pun.

Konsep ini ditegaskan dalam ayat pembuka Surat Al-Isra: “Subhanalladzi asra bi’abdihi laylan min al-masjidil haram ilal-masjidil aqsa…” Kata ‘Subhana’ menandakan kesucian Allah yang melampaui segala yang bisa dibayangkan oleh manusia.

Dalam wirid harian, umat Islam kerap mengulang-ulang ‘Subhanallah’ sebagai pengingat akan keagungan-Nya. Allah tidak memerlukan ‘Arasy, Kursi, atau langit untuk menegaskan eksistensi-Nya. Sebaliknya, seluruh ciptaan bergantung kepada Allah untuk tetap ada.

Dengan memahami hal ini, kita diajak untuk menyadari betapa agungnya Allah. Sebuah pengakuan yang membawa kita pada kepasrahan total sebagai hamba-Nya.

Isra Mi’raj bukan sekadar perjalanan spiritual, tetapi juga pengajaran mendalam tentang kasih sayang para nabi dan keagungan Allah yang tak terbatas.

Halaman:

Tags

Terkini

Pusako Randah, Warisan Jerih Payah dan Dinamika Zaman

Kamis, 16 Oktober 2025 | 19:56 WIB

Shalat: Jalan Mikraj dan Keutamaan yang Tak Terhingga

Selasa, 28 Januari 2025 | 21:00 WIB

Dialog Langit: Ketika Para Nabi Berbeda Cara Pandang

Senin, 27 Januari 2025 | 20:37 WIB