Sulawesitoday - Manusia selalu memiliki keterbatasan dalam memahami hakikat ketuhanan. Kita tidak bisa melihat langsung surga, neraka, atau bahkan Allah SWT.
Namun, justru di sinilah letak keistimewaan manusia.
Berbeda dengan makhluk lain, manusia dianugerahi akal yang mampu merangkai logika dan menalar keberadaan Tuhan melalui tanda-tanda yang ada di sekitar.
Hal ini telah menjadi perdebatan panjang di kalangan ulama.
Salah satu konsep utama yang menegaskan keunikan manusia adalah nisbatul wahid—di mana segala sesuatu pada dasarnya berasal dari satu sumber utama.
Dalam Islam, konsep ini dikuatkan oleh kalimat tauhid La ilaha illallah, yang menyatakan bahwa hanya ada satu Tuhan yang berhak disembah.
Syekh Nawawi Al-Bantani dalam tafsirnya menjelaskan bagaimana huruf pertama dalam bismillah, yaitu ‘ba’, mengandung makna mendalam.
Huruf tersebut memiliki satu titik yang melambangkan sumber segala sesuatu.
Dari titik inilah segala bentuk dan makna muncul, menjadikannya simbol asal mula wujud.
Ulama lain, seperti Syekh Mahfud At-Turmusi, juga membahas keterkaitan konsep tauhid dengan ilmu fikih.
Dalam kitabnya, beliau mengungkapkan bahwa kewajiban jihad tidak hanya dalam bentuk peperangan, tetapi bisa diwujudkan melalui dakwah dan penyebaran ilmu.
Oleh karena itu, kehadiran ulama, majelis ilmu, serta lembaga pendidikan Islam menjadi bentuk nyata dari jihad intelektual yang telah berlangsung sejak zaman Nabi Muhammad SAW.
Keterbatasan manusia dalam memahami ketuhanan bukanlah kelemahan, melainkan keunggulan yang membuat kita terus mencari dan mendekat kepada-Nya.
Sebuah hadis sahih dalam Shahih Bukhari menegaskan bahwa manusia yang tetap beriman meskipun tidak melihat Allah memiliki derajat lebih tinggi dibandingkan dengan yang beriman karena pengalaman langsung.
Artikel Terkait
Mencari Ridha Allah di Tengah Keseharian, Pelajaran dari Hidup yang Sederhana
Jejak Perdebatan Kitab dan Kentong, Hikmah dari Pondok Pesantren Tertua
Belajar Tawaduk dan Hikmah dari Perjalanan Mikraj Rasulullah SAW
Dialog Langit: Ketika Para Nabi Berbeda Cara Pandang
Shalat: Jalan Mikraj dan Keutamaan yang Tak Terhingga