Sulawesitoday - Nabi Muhammad SAW menyampaikan banyak hikmah berharga dari perjalanan Mikraj. Salah satu kisah yang menarik hati adalah saat beliau bertemu Nabi Adam di langit pertama. Dikisahkan, Nabi Adam melihat ke kanan dan tersenyum bahagia, sementara jika melihat ke kiri, beliau menangis. Ketika Rasulullah bertanya kepada Malaikat Jibril, dijelaskan bahwa di sisi kanan adalah keturunan Nabi Adam yang menjadi penghuni surga, sedangkan di sisi kiri adalah mereka yang menjadi penghuni neraka.
Bayangkan betapa sulitnya posisi Nabi Adam. Setiap keturunan, baik yang saleh maupun yang berdosa, tetap merupakan anak cucunya. Seperti yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kebahagiaan dan kesedihan datang dari keluarga sendiri. Hal ini mengajarkan kita untuk menerima kenyataan hidup dengan iman yang kokoh pada qada dan qadar. “Segala kebaikan dan keburukan berasal dari Allah,” begitu salah satu nasihat ulama besar, yang mengajarkan kita pentingnya tawakal.
Jika Anda ingin mendalami lebih jauh tentang bagaimana hikmah dalam kehidupan manusia dapat diambil dari pengalaman para nabi, Anda bisa membaca artikel Jejak Perdebatan Kitab dan Kentong: Hikmah dari Pondok Pesantren Tertua.
Pada langit berikutnya, Rasulullah bertemu dengan Nabi Musa. Nabi Musa memiliki sifat yang khas: beliau sering mempertanyakan hal-hal demi kebaikan umat. Ketika Rasulullah menerima perintah salat 50 waktu, Nabi Musa menyarankan agar beliau meminta keringanan kepada Allah. Dengan keberanian dan empati Nabi Musa, jumlah salat akhirnya dikurangi menjadi lima waktu.
Namun, ada pelajaran mendalam dari kejadian ini. Nabi Musa, yang protes demi kebenaran, menjadi contoh bahwa keberanian untuk meminta bukanlah hal yang salah, selama niatnya lurus. Bahkan, Malaikat Jibril menjelaskan bahwa Allah mencintai protes Nabi Musa, karena itu dilakukan untuk kebaikan umat, bukan demi konflik.
Untuk memahami bagaimana iman kepada Allah bisa membawa ridha dalam kehidupan sederhana, baca juga artikel Mencari Ridha Allah di Tengah Keseharian: Pelajaran dari Hidup yang Sederhana.
Kisah ini menyentuh kita. Banyak dari kita merasa ragu untuk meminta kepada Allah, entah itu untuk memohon ampunan atau meminta pertolongan. Padahal, Allah menyukai hamba yang bersungguh-sungguh dalam berdoa. Sama seperti Rasulullah yang terus meminta keringanan salat hingga lima waktu saja.
Di balik perjalanan Mikraj ini, ada pesan yang sangat jelas: tawaduk kepada Allah dan menghormati para nabi sebagai pembawa hikmah. Seperti Nabi Ibrahim yang tetap diam dan Nabi Musa yang terus menyarankan, semua memberikan pelajaran berbeda. Semua perintah Allah, termasuk salat, memiliki barokah yang harus kita syukuri.
Ayo Gabung di Channel WhatsApp Sulawesitoday! Dapatkan update informasi dan berita terbaru di https://bit.ly/WAchanelSulawesitoday
Jangan Ketinggalan Berita Eksklusif Lainnya! Berita Eksklusif Lainnya! Yuk, cek langsung di Google News Sulawesitoday.
Artikel Terkait
Rusak Parah! Aspal Jalan Trans Sulawesi di Mamuju Tengah Jadi Sorotan, Kontraktor Salahkan Alam
Jembatan Penghubung Desa Siwi dan Minanga Timur Mamasa Putus Akibat Banjir
Komitmen Bersama, Ketua ORI Sulteng Apresiasi Pembangunan Zona Integritas di Kemenkum Sulteng
Kolaborasi, Inovasi, dan Bisnis: BRI Journalism 360 di Medan Kian Menginspirasi
Transformasi Layanan Imigrasi, Dari Sejarah ke Era Digital