Sulawesitoday - Hujan kok batu. Begitulah kagetnya warga di Puriala, Konawe, Sulawesi Tenggara, akhir Januari lalu. Sore-sore, lagi enak-enaknya di rumah, tiba-tiba langit menjatuhkan kerikil es. Bukan hanya di Konawe. Surabaya, Lampung, sampai Bekasi juga pernah merasakannya.
Banyak yang heran. Ini kan Indonesia. Negara tropis. Kok bisa ada es jatuh dari langit? Bukankah suhu kita ini hangat?.
Ternyata, rahasianya ada di "pabrik" di atas sana. Namanya awan Cumulonimbus (Cb). Awan ini bukan awan biasa. Bentuknya menjulang tinggi, mirip bunga kol raksasa yang warnanya berubah jadi abu-abu gelap sampai hitam.
Di dalam awan "nakal" ini, terjadi pergulatan hebat. Ada udara panas yang naik dengan cepat ke atas, namanya updraft. Udara itu naik sampai melewati batas beku, atau freezing level. Di Indonesia, batas beku itu ada di ketinggian sekitar 4,8 kilometer.
Begitu uap air melewati batas itu, ia membeku. Menjadi bola-bola es.
Lalu, bola es itu menari-nari di dalam awan. Naik lagi, turun lagi. Terus begitu sampai ukurannya membesar karena bertabrakan dengan butir air lainnya. Makin lama makin berat. Begitu sudah terlalu berat, dan aliran udara ke bawah (downdraft) sedang kuat-kuatnya, es itu pun "dibuang" ke bumi.
Kenapa tidak mencair saat jatuh?
Karena jatuhnya terlalu cepat. Kecepatannya bisa sampai 120 mil per jam. Ditambah lagi, suhu di puncak awannya sangat ekstrem. Di Konawe itu, suhunya tercatat sampai minus 80 derajat Celsius. Bayangkan. Es sebesar itu jatuh dari tempat sedingin itu dengan kecepatan tinggi, ya tidak sempat habis mencair saat sampai di genting rumah kita.
BMKG sudah mewanti-wanti. Fenomena ini biasanya hobi muncul saat masa pancaroba. Antara Maret sampai April, atau saat peralihan musim kemarau ke hujan.
Bagaimana cara menandainya?
Gampang-gampang susah. Biasanya, sehari sebelumnya udara terasa sangat gerah dan panas, bahkan sejak malam hari. Lalu, sekitar jam 10 pagi, lihatlah ke langit. Kalau ada awan putih bertumpuk-tumpuk seperti bunga kol, waspadalah. Apalagi kalau tiba-tiba dahan pohon bergoyang kencang dan ada sentuhan udara dingin yang mendadak lewat.
Kalau sudah begitu, segera cari tempat berlindung. Terutama untuk mobil Anda. Bola es yang ukurannya lebih dari 0,75 inci itu bisa memecahkan kaca depan. Kalau tidak ada garasi tertutup, selimuti mobil Anda dengan selimut tebal atau karpet lantai. Setidaknya bisa meredam benturan es yang "mengamuk" dari langit itu.
Memang, hujan es ini skalanya sangat lokal. Tidak rata satu kota. Paling hanya dalam radius 5 sampai 10 kilometer saja. Durasinya pun singkat, biasanya kurang dari 10 menit. Tapi dampaknya lumayan bikin sport jantung.
Artikel Terkait
Niche YouTube 2026, Psychological Self-Mastery, Modal Nol Hasil Gila!
Trik Tangga Dopamin, Ubah Penonton Jadi Super Fan yang Setia Menunggu Konten Anda
Lupa Password Telegram, Apakah Chat Hilang? Ini Cara Mengatasinya!
Tangsi Belanda Siak Runtuh, 17 Siswa dan Guru Jadi Korban Akibat Kayu Dimakan Rayap
Cara Main Harvest Moon BTN di Android, Panduan Emulator Duckstation dan Cheat Lengkap