• Senin, 20 Juli 2026

Tangsi Belanda Siak Runtuh, 17 Siswa dan Guru Jadi Korban Akibat Kayu Dimakan Rayap

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Minggu, 1 Februari 2026 | 13:01 WIB
Lantai 2 Tangsi Belanda Siak ambruk saat study tour, melukai 17 orang. Meski direvitalisasi Rp5,2 miliar pada 2018, bangunan roboh diduga karena kayu lapuk dimakan rayap
Lantai 2 Tangsi Belanda Siak ambruk saat study tour, melukai 17 orang. Meski direvitalisasi Rp5,2 miliar pada 2018, bangunan roboh diduga karena kayu lapuk dimakan rayap

Sulawesitoday - Sabtu, 31 Januari 2026, suasana di tepian Sungai Siak begitu ceria. Rombongan dari SD IT Baitul Ridho Lubuk Dalam tiba di Kecamatan Mempura dengan semangat study tour yang tinggi. Ada 55 siswa yang ingin melihat langsung kemegahan Tangsi Belanda, bangunan bersejarah yang sudah berdiri sejak abad ke-18, tepatnya di era Sultan Siak ke-9.

Bangunan itu dulunya kokoh. Berfungsi sebagai markas militer, asrama, hingga penjara bagi kolonial Belanda untuk memata-matai Sultan di seberang sungai. Namun, kegembiraan itu mendadak runtuh pada pukul 09.00 WIB.

Lantai dua Gedung A tiba-tiba ambruk. Belasan siswa, guru, dan pemandu wisata terjun bebas dari ketinggian sekitar 4 meter. Jeritan histeris pecah di tengah kepulan debu material bangunan.

Lantai dua Gedung A tiba-tiba ambruk. Belasan siswa, guru, dan pemandu wisata terjun bebas dari ketinggian sekitar 4 meter. Jeritan histeris pecah di tengah kepulan debu material bangunan.

Tercatat ada 17 korban dalam insiden memilukan ini. Sepuluh orang di antaranya harus dilarikan ke RSUD Tengku Rafian Siak karena mengalami luka robek di kepala, nyeri pinggang, hingga memar serius. Salah satu guru yang menjadi korban, Mira Agustina (37), dilaporkan dalam kondisi stabil meski mengalami luka.

Pertanyaan besar pun muncul: Kok bisa ambruk?

Padahal, pada tahun 2018 lalu, bangunan ini baru saja direvitalisasi oleh Kementerian PUPR. Anggarannya tidak main-main, mencapai Rp5,2 miliar dari APBN. Saat itu, tim arkeolog dan ahli cagar budaya dikerahkan untuk melakukan pengkajian mendalam.

Kapolres Siak, AKBP Sepuh Ade Irsyam Siregar, memberikan penjelasan awal yang mengejutkan. "Menurut laporan sementara, runtuhnya lantai dua Tangsi Belanda diduga akibat usia kayu atau papan yang sudah dimakan rayap," ujarnya.

Rayap. Pasukan serangga kecil itu rupanya lebih "perkasa" ketimbang proyek senilai miliaran rupiah. Kayu penyangga yang terlihat kokoh di luar ternyata sudah rapuh di dalam. Kapolres pun menyoroti aspek perawatan yang diduga minim dari pihak pemerintah daerah dalam menjaga situs cagar budaya tersebut.

Bupati Siak, Afni Zulkifli, langsung bergerak cepat menjenguk para korban dan memastikan seluruh biaya pengobatan ditanggung pemerintah kabupaten. Namun, ketika disinggung soal revitalisasi Rp5,2 miliar tahun 2018, bupati memilih irit bicara.

"Soal ini no coment-lah saya ya. Kita menatap ke depan ajalah," kata Bupati Afni. Fokusnya saat ini adalah evaluasi total, termasuk menutup sementara seluruh objek wisata cagar budaya berlantai dua di Siak untuk pemeriksaan teknis.

Kasus ini menjadi ironi besar bagi dunia pariwisata sejarah di Riau. Sebuah benteng yang dulunya dibangun untuk bertahan dari serangan musuh, justru kalah oleh kurangnya perawatan harian. Rp5,2 miliar seolah habis menjadi santapan rayap karena pengawasan yang tidak maksimal.

Situs sejarah memang berharga, tapi keselamatan pengunjung jauh lebih utama. Semoga ini menjadi pelajaran mahal agar "pemeliharaan" tidak hanya berhenti di atas kertas proyek semata.

Baca Juga: Lupa Password Telegram, Apakah Chat Hilang? Ini Cara Mengatasinya!

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini