• Kamis, 16 Juli 2026

Krisis Solar Bersubsidi Sumatera: Jatah Daerah Dipotong 70 Persen, Organda Sebut Darurat BBM

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Kamis, 16 Juli 2026 | 01:05 WIB
Ketimpangan ekstrem kuota solar subsidi picu krisis energi di Sumatera. Sopir truk tewas kelelahan saat antre, Organda desak evaluasi BPH Migas.
Ketimpangan ekstrem kuota solar subsidi picu krisis energi di Sumatera. Sopir truk tewas kelelahan saat antre, Organda desak evaluasi BPH Migas.

@sulawesitodaycom

Mengapa urusan asap dapur para sopir logistik di Sumatera Utara sampai meledak menjadi amarah yang viral? Videonya beredar. Beruntun. Penuh caci maki. Sasarannya langsung menembus nama Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. Alasannya sangat mendasar. Solar langka. Sistem distribusi hancur. Coba bayangkan. Jam dua subuh. Udara sedang dingin-dinginnya. Para pencari nafkah ini sudah dipaksa terjaga. Menjaga antrean yang mengular hingga berkilometer. Jam istirahat habis di jalan. Pendapatan harian rontok. Mereka sekarat di atas aspal demi secangkir bahan bakar. Di saat yang sama, harga Pertamax justru dipatok makin melambung. Sangat tidak adil. Namun, ini bukan sekadar urusan kinerja menteri. Taruhannya jauh lebih besar. Kini nama Presiden Prabowo ikut terseret. Janji politik mulai ditagih paksa. Mana komitmen ketahanan energi? Mana bukti menyikat habis mafia BBM di daerah? Ini peringatan keras. Jangan sampai data di meja pusat terlihat indah, padahal akar rumput sudah terbakar. Bereskan segera kekacauan ini. Jika tidak, bersiaplah melihat urat nadi logistik kita lumpuh total oleh mogok massal. Bagaimana menurut kalian, apa langkah paling pas agar hak rakyat kecil ini tidak terus dirampas? Tuliskan pendapatmu di bawah! #SolarLangka #InfoSumut #KrisisEnergi #SopirTruk #PrabowoSubianto

♬ suara asli - Menurut Sulawesitoday - Menurut Sulawesitoday

Sulawesitoday - Krisis solar bersubsidi di Pulau Sumatera kian mengkhawatirkan hingga merenggut korban jiwa akibat kelelahan parah saat mengantre di stasiun pengisian bahan bakar umum. Pemicu utama kekacauan ini adalah ketimpangan ekstrem antara usulan kuota bahan bakar minyak dari pemerintah daerah dan realisasi yang disetujui oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi.

"Situasi lapangan sudah masuk kategori darurat bahan bakar minyak bagi seluruh sektor transportasi logistik," kata Sekretaris Jenderal Organisasi Angkutan Darat, Kurnia Lesani Adnan, di Jakarta pada Selasa, 14 Juli 2026.

Antrean mengular terjadi setiap hari di berbagai wilayah Sumatra Selatan dan Sumatra Utara selama sebulan terakhir. Truk bertonase besar terpaksa parkir berhari hari di sepanjang jalan lintas untuk mendapatkan giliran pengisian.

Seorang sopir truk berusia 50 tahun bahkan ditemukan meninggal dunia di balik kemudi saat mengantre di jalur lintas timur Palembang Jambi. Kepolisian Resor Banyuasin menyatakan korban diduga kuat mengalami kelelahan ekstrem setelah terjaga berjam jam demi mendapatkan solar.

Baca Juga: Bupati Erwin Burase Bentuk Tim Terpadu Tertibkan Barcode BBM Subsidi di Parigi Moutong Demi Petani dan Nelayan

Kesenjangan angka pasokan energi di tingkat hilir memang terlihat sangat mencolok. Provinsi Sumatra Selatan mengusulkan kuota solar sebesar 2,8 juta kiloliter untuk tahun ini, namun pusat hanya menyetujui sekitar 630.000 kiloliter.

"Selisih jumlah kebutuhan dan penyaluran ini terlalu senjang sehingga wajar memicu keresahan massal," ujar Pengamat Kebijakan Publik Universitas Sriwijaya, M. Husni Thamrin, saat dihubungi pada Minggu, 12 Juli 2026.

Dampak kelangkaan bahan bakar ini langsung memukul urat nadi perekonomian lokal secara signifikan. Pengemudi angkutan umum serta ojek daring kehilangan waktu kerja produktif karena sebagian besar hari mereka habis di jalanan.

Para sopir bus antarkota kini tidak bisa lagi menerapkan sistem perjalanan pulang pergi secara langsung. Mereka wajib menginap satu malam di kota tujuan hanya untuk berburu solar bersubsidi dari sore hingga subuh.

Pembatasan kuota pembelian lewat sistem digital juga dituding memperkeruh situasi di lapangan. Stasiun pengisian sering membatasi transaksi jauh di bawah kapasitas tangki kendaraan dengan alasan stok menipis.

"Kami terpaksa membeli solar eceran dengan harga dua kali lipat agar armada bisa tetap berjalan," ucap Ronaldi, seorang sopir bus lintas provinsi, pada Jumat, 10 Juli 2026.

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini