• Senin, 20 Juli 2026

Jejak Perdebatan Kitab dan Kentong, Hikmah dari Pondok Pesantren Tertua

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Sabtu, 25 Januari 2025 | 16:32 WIB
Warisan tradisi hujjah di pesantren menyimpan pelajaran berharga tentang ilmu, sanad, dan hikmah kehidupan. Simak kisahnya yang penuh inspirasi.
Warisan tradisi hujjah di pesantren menyimpan pelajaran berharga tentang ilmu, sanad, dan hikmah kehidupan. Simak kisahnya yang penuh inspirasi.

Sulawesitoday - Dalam sejarah tradisi Islam di Indonesia, diskusi tentang hukum dan adat sering menjadi topik yang menarik. Salah satu kisah yang terkenal adalah perdebatan tentang penggunaan kentong di lingkungan pesantren.

Gus Baha dalam sebuah ceramahnya, menyebut kisah ini melibatkan tokoh-tokoh besar seperti Mbah Hasyim dan Mbah Fakih Mas Kumambang. Perdebatan mereka bukan sekadar argumen, melainkan cerminan kedalaman ilmu dan kecintaan pada agama.

Mbah Hasyim dikenal sebagai ulama yang berpandangan bahwa kentong itu haram. Dalam kitabnya, Al-Jasus an Tahrimin Naquus, beliau menjelaskan bahwa penggunaan kentong menyerupai kebiasaan Nasrani. Argumentasi ini didasarkan pada hadis yang mencatat diskusi Rasulullah SAW dengan para sahabat tentang cara mengumumkan waktu salat. Beberapa sahabat mengusulkan trompet besar seperti yang digunakan Yahudi, sementara yang lain mengusulkan kentong seperti tradisi Nasrani. Dari sinilah muncul pandangan Mbah Hasyim.

Namun, pendapat ini tidak diterima begitu saja. Mbah Fakih Mas Kumambang, ulama besar lain pada masa itu, mengkritik keras pandangan tersebut. Beliau menulis sebuah kitab untuk menunjukkan bahwa kentong di Indonesia memiliki konteks yang berbeda. "Kentong di sini digunakan untuk keamanan, seperti tanda bahaya jika ada maling atau banjir," jelas beliau. Argumentasinya sangat kuat, mengaitkan fungsi kentong sebagai alat tradisional yang jauh dari praktik keagamaan Nasrani.

Perseteruan intelektual ini tidak hanya berhenti di kitab. Ada cerita menarik dari Pondok Termas, tempat Mbah Dimyati menyuruh santrinya menyembunyikan semua kentong sebelum Mbah Hasyim datang berkunjung. Mbah Hasyim mengira Mbah Dimyati sepakat dengannya, namun seorang santri tanpa sadar membocorkan rahasia bahwa kentong hanya disembunyikan sementara. Peristiwa ini menunjukkan keikhlasan dan kepolosan para santri, sekaligus pentingnya menjaga tradisi tanpa menghilangkan esensi lokal.

Baca Juga: Mencari Ridha Allah di Tengah Keseharian, Pelajaran dari Hidup yang Sederhana

Tradisi hujjah atau debat ilmiah ini menjadi salah satu fondasi penting di pesantren. Tidak hanya membentuk pemikiran yang tajam, tetapi juga menjaga sanad keilmuan agar tetap hidup. Seperti yang sering dikatakan, "Sanad adalah rantai yang menghubungkan kita dengan ilmu para nabi." Tanpa itu, interpretasi bisa melenceng jauh dari maksud sebenarnya.

Dalam lingkup yang lebih luas, kisah ini juga menggambarkan bagaimana tafsir keilmuan bisa berubah seiring waktu dan konteks. Contohnya, bagaimana anak cucu sering menafsirkan ulang warisan leluhurnya. Bahkan, Nabi Ibrahim pun pernah "disematkan" identitas Yahudi oleh orang-orang setelahnya. Al-Qur'an dengan tegas meluruskan, “Makana Ibrahimu Yahudi wala Nasraniyah” (Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani).

Cerita ini memberikan pelajaran penting: menjaga tradisi bukan berarti membeku pada masa lalu, tetapi memahami esensi di baliknya. Dalam konteks pesantren, ini terlihat jelas pada bagaimana kitab-kitab klasik tetap diajarkan sambil disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Kisah lainnya dari Mbah Mun menegaskan pentingnya keseimbangan antara hafalan dan pemahaman. Di Lirboyo, beliau sering meminta para santri untuk tidak hanya hafal Al-Qur'an, tetapi juga memahami isinya. Bahkan, alumni yang dianggap alim sering diuji kemampuannya membaca kitab kuning di depan beliau. "Ngaji bukan sekadar hafalan, tetapi juga kedalaman," kata salah satu santri senior.

Persaingan keilmuan antarulama juga menjadi warna tersendiri. Misalnya, cerita tentang Mbah Maksum dan Mbah Ali Maksum yang memiliki pendekatan berbeda dalam ilmu sharaf. Perdebatan ini menunjukkan bahwa ilmu tidak hanya soal benar atau salah, tetapi juga perspektif.

Namun, semua itu bermuara pada satu tujuan: menjaga kesinambungan ilmu dan tradisi. Seperti yang dikatakan dalam Al-Qur'an, “Wajalaha kalimatam baqiatan fi zurriyatihi” (…dan jadikanlah ia kalimat yang kekal dalam keturunannya).

Akhirnya, cerita tentang kentong, kitab, dan sanad ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga warisan keilmuan. Dalam dunia yang semakin modern, tradisi ini tidak boleh pudar. Sebaliknya, ia harus menjadi pijakan untuk menghadapi tantangan zaman. Dan untuk itu, kita semua bertanggung jawab.

Ayo Gabung di Channel WhatsApp Sulawesitoday! Dapatkan update informasi dan berita terbaru di https://bit.ly/WAchanelSulawesitoday

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Artikel Terkait

Terkini

Pusako Randah, Warisan Jerih Payah dan Dinamika Zaman

Kamis, 16 Oktober 2025 | 19:56 WIB

Shalat: Jalan Mikraj dan Keutamaan yang Tak Terhingga

Selasa, 28 Januari 2025 | 21:00 WIB

Dialog Langit: Ketika Para Nabi Berbeda Cara Pandang

Senin, 27 Januari 2025 | 20:37 WIB