Sulawesitoday - Bekerja bukan lagi jaminan kesejahteraan. Bahkan, dalam banyak kasus, bekerja bisa berarti bertahan hidup tanpa cukup napas.
Data terbaru yang dipaparkan oleh Riza Annisa Pujarama dari INDEF menunjukkan bahwa jumlah pekerja di sektor informal—tempat upah sering tak menentu dan perlindungan nihil—naik jadi 59,4 persen. Sebaliknya, sektor formal malah surut. Yang tetap bekerja pun, belum tentu hidup lebih baik.
“Artinya, penduduk yang tercatat bekerja belum tentu menerima penghasilan yang layak,” kata Riza. Peringatan ini datang tak lama setelah Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan terbarunya: angka pengangguran pada Februari 2025 naik 83 ribu orang dibanding tahun lalu. Kini, total penganggur berada di angka 7,28 juta.
Tentu saja, ada yang mencoba menenangkan. TPT—tingkat pengangguran terbuka—turun tipis ke 4,76 persen. Tapi, seperti kue yang tampak enak dari luar, penurunan ini menutupi fakta lain: angkatan kerja membengkak 3,67 juta jadi 153,05 juta orang. Sayangnya, tidak semua kebagian piring.
Banyak dari mereka yang akhirnya mengisi ruang abu-abu: bekerja, tapi hanya separuh waktu. Atau lebih parah—mereka yang disebut "setengah menganggur". Mereka datang ke tempat kerja, tapi jam kerjanya berkurang. Gaji pun tentu tak utuh. Uangnya pas-pasan, makannya tak tentu, dan masa depan? Samar.
“Pekerja informal yang tinggi itu juga artinya potensi pajak yang hilang. Negara kehilangan pendapatan, masyarakat kehilangan perlindungan,” tambah Riza.
Baca Juga: BGN Sibuk Bicara Asuransi, Tapi Keracunan Massal Terus Berulang
Di sisi lain, Kepala BPS Amelia Adininggar Widyasanti menegaskan bahwa dinamika ini adalah imbas dari meningkatnya jumlah pencari kerja. Tapi angka hanya separuh cerita. Di balik itu ada orang-orang yang bekerja tanpa harapan naik kelas.
Ironisnya, di saat sektor informal melonjak, kebijakan ekonomi tampak jalan di tempat. Program pelatihan kerap seremonial, insentif untuk industri besar tak menjangkau pekerja kecil. Negara terlihat sibuk mencatat statistik, tapi abai menelisik nasib.
Jadi, benarkah Indonesia semakin produktif? Atau kita hanya semakin terampil menyembunyikan kenyataan?