kriminal

Air Mata Pedagang Pasar Masomba, Sembilan Kios Ludes - 20 Tahun Usaha Hancur dalam Sekejap

Selasa, 29 Juli 2025 | 00:08 WIB
Tragedi kebakaran Pasar Masomba Palu ludeskan 9 kios pedagang. Korsleting listrik diduga penyebab, kerugian belum terhitung.

Sulawesitoday - Berapa kali lagi pedagang harus kehilangan segalanya? Sembilan keluarga di Pasar Masomba, Palu kembali merasakan pahitnya kehilangan ketika api melumat habis kios mereka, Senin (28/7/2025) kemarin.

Air mata Taswin belum kering. Pria paruh baya itu masih terduduk di depan reruntuhan kiosnya yang hangus. "Dua puluh tahun saya bangun usaha ini," gumamnya pelan. Suaranya nyaris tak terdengar di antara gemuruh aktivitas petugas yang masih membersihkan puing.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Sulawesitoday.com (@sulawesitoday)

Pukul empat sore itu, Pasar Masomba di Kelurahan Tatura Utara mendadak ricuh. Asap hitam mengepul dari atap kios Taswin. Hamzah yang kebetulan lewat langsung berteriak keras. "Api! Api!" teriaknya sambil berlari mencari pertolongan.

Dalam sekejap mata, keajaiban berubah menjadi malapetaka.

Api tak pandang bulu. Kios Madi yang bersebelahan ikut terbakar. Anti, Boni, Sahabudin - satu persatu nama-nama familiar di pasar itu masuk daftar korban. Tira menangis histeris melihat warung baksonya ludes. Titi dan Joding hanya bisa pasrah. Aco, si penjual sayur, memeluk anaknya erat-erat.

"Apinya kayak monster ganas," kata Asni yang masih shock. Wanita berusia 52 tahun itu menyaksikan langsung bagaimana si jago merah melahap satu persatu bangunan. "Dalam lima menit, semuanya sudah habis."

Lima unit pemadam kebakaran tiba pukul 16.10 Wita. Kombes Deny Abrahams, Kapolresta Palu, langsung turun tangan memimpin operasi pemadaman. Warga bergotong-royong membantu. Ada yang bawa ember, ada yang teriak-teriak koordinasi.

"Api membesar sangat cepat," ujar Deny dengan wajah lelah. "Untungnya tidak ada yang meninggal. Itu sudah syukur besar."

Dugaan awal? Korsleting listrik. Lagi-lagi masalah klasik yang seperti hantu gentayangan di pasar-pasar tradisional. Instalasi listrik butut, kabel-kabel kusut, sambungan asal-asalan - semuanya jadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Tak main-main, ini bukan kali pertama. Sebelumnya Inpres Manonda juga bernasib sama. Pasar-pasar di Palu seperti terkena kutukan kebakaran beruntun. Ibarat benang sengkarut yang tak pernah selesai diurai.

Kerugian material? Belum bisa dihitung pasti. Yang jelas, sembilan keluarga kini harus memulai dari nol lagi. Tabungan habis, modal lenyap, masa depan jadi tanda tanya besar.

"Saya sudah tua, mau mulai dari mana lagi?" keluh Sahabudin sambil menatap kosong sisa-sisa tokonya. Pria 65 tahun itu terlihat sangat terpukul. Anak-anaknya di Jakarta belum tahu kejadian ini.

Masyarakat sekitar spontan menggelar dapur umum untuk para korban. Solidaritas mengalir dari berbagai penjuru. Ada yang bawa nasi bungkus, ada yang serahkan uang seadanya. Gotong-royong yang menyentuh hati di tengah kepedihan.

Halaman:

Tags

Terkini