Sulawesitoday - Sebuah unit apartemen di lantai 20 kawasan Cisauk berubah fungsi. Bukan lagi tempat tinggal. Melainkan laboratorium gelap produksi narkotika. Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai membongkar operasi terselubung ini, Jumat sore (17/10) sekitar pukul 15.30 WIB.
Penangkapan berlangsung dramatis. Tim gabungan sudah mengintai berhari-hari. Observasi mendalam membuahkan hasil. Unit apartemen itu memang mencurigakan. Aktivitas keluar-masuk tidak wajar. Bau kimia tercium samar. Operasi pun dijalankan dengan presisi tinggi.
Dua pelaku berhasil diamankan. Mereka adalah IM dan DF, keduanya bukan pemain baru. Residivis kasus serupa tahun 2016. Sembilan tahun lalu mereka tersangkut kasus identik. Kini mereka kembali mengulangi kesalahan yang sama, seolah hukuman sebelumnya tak memberikan efek jera sedikitpun.
IM berperan sebagai koki. Dia yang meracik bahan-bahan kimia. Mengubah prekursor menjadi kristal mematikan. Sementara DF menjadi pemasar. Dia yang menghubungkan produksi dengan jaringan distribusi. Kerja sama mereka berjalan efisien, menghasilkan pundi-pundi uang haram dalam waktu singkat.
-
Bagaimana Mereka Memproduksi Sabu di Apartemen?
Kedua pelaku mengaku terus terang. Keuntungan mencapai Rp 1 miliar. Waktu operasi hanya enam bulan. Rata-rata Rp 166 juta per bulan. Angka fantastis untuk kejahatan terselubung.
Modus operandi mereka cukup canggih. Mereka membeli obat asma legal. Sebanyak 15.000 butir pil. Dari situ, mereka mengekstrak zat ephedrine. Proses ekstraksi menghasilkan 1 kilogram ephedrine murni. Inilah bahan baku utama pembuat sabu berkualitas tinggi.
Yang mengejutkan adalah sumber peralatan. Semua dibeli secara daring. Platform belanja online jadi surga perlengkapan ilegal. Gelas kimia, tabung reaksi, bahan prekursor—semuanya dipesan lewat internet. Paket datang seperti barang biasa. Tidak ada yang curiga. Sistem pengawasan masih lemah untuk transaksi semacam ini.
Barang bukti yang disita cukup beragam. Sabu padat seberat 209,02 gram. Sabu cair 319 mililiter. Prekursor ephedrine 1,06 kilogram. Prekursor aceton 1.503 mililiter. Asam sulfat 400 mililiter. Prekursor toluen 3,43 liter. Dua gelas kimia (beaker glass). Dan berbagai peralatan laboratorium lainnya.
-
Apa yang Membuat Kasus Ini Berbeda?
Tren laboratorium rumahan meningkat pesat. Apartemen menjadi lokasi favorit. Keamanan ketat, akses terbatas. Tetangga jarang berinteraksi. Privasi terjaga maksimal. Kondisi ini dimanfaatkan pelaku untuk beroperasi tanpa kecurigaan.
Lokasi di lantai 20 bukan kebetulan. Semakin tinggi, semakin aman. Bau kimia tidak mudah tercium. Sirkulasi udara lebih baik. Pengawasan pengelola apartemen minim. Pelaku bisa bekerja leluasa, tanpa gangguan dari pihak manapun.
Fakta bahwa keduanya residivis menunjukan celah sistem. Hukuman sebelumnya tidak cukup. Pembinaan di lapas gagal mengubah. Mereka keluar dan mengulangi. Pola ini menjadi pertanyaan besar: apakah rehabilitasi berjalan efektif, atau hanya sekadar formalitas administratif belaka?
Kerja sama BNN dan Bea Cukai patut diapresiasi. Sinergi antar-lembaga membuktikan keberhasilan. Tanpa koordinasi solid, pengungkapan ini mustahil terjadi. Informasi mengalir lancar. Tindakan terukur dan tepat. Hasilnya, dua pelaku terjaring beserta barang bukti lengkap.
Baca Juga: KPK Respons Isu Mark Up Whoosh: Butuh Laporan Resmi untuk Usut Dugaan Mahfud MD