Sulawesitoday - Insiden kekerasan yang melibatkan seorang petugas wanita Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bitung memicu perhatian publik. Peristiwa ini terjadi saat debat Pilwalkot Bitung di sebuah hotel di Manado, pada Minggu malam (6/10). Korban, seorang petugas keamanan berinisial P, menjadi sasaran pemukulan oleh seorang oknum polisi yang berusaha memasuki ruangan tanpa tanda pengenal resmi.
Pihak kepolisian Sulawesi Utara (Sulut) telah merespons cepat, menyebut kejadian itu sebagai salah paham. "Itu hanya salah paham saja, dan permasalahan sudah selesai," ujar Kombes Michael Irwan Thamsil, Kabid Humas Polda Sulut, dalam keterangannya Jumat (11/10). Menurut Thamsil, kedua belah pihak telah bertemu untuk mediasi di Mapolda Sulut dan sepakat untuk tidak memperpanjang masalah ini.
Namun, respons publik menunjukkan keresahan yang lebih dalam tentang kekerasan terhadap perempuan di ruang publik. Ketua KPU Kota Bitung, Wiwinda Hamisi, mengaku pihaknya sempat mempertimbangkan melaporkan oknum polisi tersebut ke Propam. "Kami menunggu iktikad baik, tapi kalau tidak ada, kami tidak segan melaporkan ke Propam. Saya juga akan membawa kasus ini ke komunitas perempuan," tegas Wiwinda pada Rabu (9/10).
Kejadian ini menyoroti tantangan yang dihadapi petugas perempuan, khususnya dalam penyelenggaraan pemilu yang kerap berlangsung dalam situasi tegang. "Ini bukan sekadar salah paham biasa," ujar Wiwinda, menekankan bahwa penting bagi aparat keamanan untuk menghormati aturan dan tidak bersikap sewenang-wenang, terutama kepada petugas perempuan yang menjalankan tugasnya.
Baca Juga: Modus Licik: Bobol Dana Nasabah Rp 300 Juta, Pegawai Bank BUMN Manfaatkan Rekan Kerja!
Meskipun mediasi telah dilakukan, desakan agar institusi menindak tegas anggotanya tetap mengemuka. Kasus ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana kekerasan terhadap perempuan di ruang publik dapat dicegah dan sejauh mana aparat keamanan dapat memberikan perlindungan, alih-alih menjadi ancaman.
Di era di mana perempuan mulai mendapatkan peran penting dalam penyelenggaraan pemilu, kejadian seperti ini memperlihatkan bahwa ruang aman bagi mereka masih perlu diperjuangkan. Perhatian lebih serius dari berbagai pihak diperlukan agar kasus serupa tidak terulang.