Sulawesitoday - Polisi di Makassar akhirnya menangkap seorang remaja berinisial MA (19) yang melakukan aksi brutal penikaman di sebuah warung makan. Peristiwa menghebohkan ini terjadi di Warung Sop Saudara Assauna, Jalan Urip Sumoharjo, Kecamatan Panakkukang, pada Senin dini hari (21/10/2024).
Aksi yang berawal dari tatapan mata ini berujung pada serangan yang melukai seorang pria tak dikenal, AA (36), di bagian lengan.
Baca Juga: Aksi Nekat! Dua Mahasiswa Tipu Manajer SPBU Lewat Telepon, Berpura-Pura Jadi Polisi Demi Uang
Kanit Reskrim Polsek Panakkukang, Iptu Sangkala, mengonfirmasi insiden ini. “Iya, memang terjadi penikaman. Semua dipicu oleh ketersinggungan karena saling tatap saat di dalam warung,” ujarnya.
Dengan lugas, Sangkala menyebutkan bahwa MA tampaknya sudah berniat siap tempur. Remaja ini datang ke warung membawa badik yang diselipkan di pinggang, seakan bersiap menghadapi situasi yang tidak terduga.
Baca Juga: Heboh Dugaan Penculikan di Maros, Pria Dikejar Warga Nyaris Diamuk! Apa Motif di Balik Tindakannya?
Dalam rekaman CCTV yang beredar, tampak jelas bagaimana MA mengenakan kaos hitam dan sempat dihadang seorang perempuan di depan warung. Di sisi lain, AA terlihat mengenakan kaos biru dan tampak mendekati MA, yang memicu ketegangan semakin memanas.
Sejumlah orang mencoba melerai, namun MA secara tiba-tiba mengeluarkan badiknya, mengejar, dan berusaha menikam AA. Korban berhasil menghindar, masuk ke dalam warung, namun akhirnya MA berhasil menikam lengannya sebelum melarikan diri menggunakan sepeda motor.
Pengejaran terhadap MA berlangsung intensif. Namun akhirnya, upaya keluarga untuk meredam situasi berbuah hasil.
“Tadi malam pelaku menyerahkan diri karena kita kejar-kejar terus,” ujar Sangkala. MA akhirnya diantarkan keluarganya ke kantor polisi untuk menyerahkan diri bersama barang bukti berupa badik yang digunakan dalam aksi penikaman tersebut.
Insiden ini menyoroti potensi bahaya dari tindakan remaja sumbu pendek yang mudah terpancing emosinya. Tak hanya itu, kejadian ini menjadi peringatan bagi masyarakat, khususnya generasi muda, tentang pentingnya mengendalikan diri, terutama di tempat umum di mana konflik bisa timbul dari hal-hal sepele.
Kisah penikaman di warung makan ini menjadi pembelajaran bahwa kecepatan dalam merespons ketersinggungan kecil bisa berubah menjadi bahaya besar. Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, hingga komunitas masyarakat mungkin perlu memperkuat program-program yang mengajarkan kendali emosi pada generasi muda, demi mencegah terjadinya insiden serupa di masa depan.