Sulawesitoday - Seorang mahasiswi di Makassar menjadi salah satu dari 13 tersangka dalam kasus pencurian kendaraan bermotor yang diungkap oleh Polrestabes Makassar. Kejadian ini mengungkap sisi gelap dari tekanan ekonomi yang sering dialami mahasiswa, terutama bagi mereka yang harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan harian dan biaya kuliah.
Perempuan muda ini, menurut Kasat Reskrim Polrestabes Makassar Kompol Devi Sujana, diduga menjadi salah satu pelaku utama dalam sindikat pencurian tersebut. “Yang perempuan, statusnya mahasiswi. Dia pemetik (eksekutor) juga,” ujar Devi saat ditemui di kantornya, Jumat (25/10/2024).
Dalam aksinya, mahasiswi ini berkeliling di beberapa lokasi untuk mencari target. Metode yang dipakai terbilang sederhana tetapi efektif. Saat ia mendapati sebuah motor yang terparkir dengan kunci yang masih tergantung, ia langsung beraksi.
"Mahasiswi, dia hunting keliling ketika dapat motor yang kebetulan pemiliknya lupa mencabut kunci, dia ambil," jelas Devi. Motor tersebut kemudian didorong ke tempat yang lebih aman, sebelum diserahkan kepada anggota sindikat lainnya untuk diproses lebih lanjut atau dijual.
Alasan di balik tindakan nekat ini, menurut Devi, adalah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk biaya kuliah. “Untuk keperluan sehari-hari, termasuk biaya kuliah,” lanjut Devi.
Hal ini menyoroti masalah yang dihadapi oleh mahasiswa di Indonesia yang kadang terjebak dalam situasi sulit untuk menutupi biaya pendidikan dan biaya hidup. Meski banyak dari mereka yang memilih bekerja paruh waktu atau mencari beasiswa, beberapa akhirnya terjerumus ke dalam tindakan ilegal karena terdesak kebutuhan.
Kasus ini pun tak hanya melibatkan mahasiswi, tetapi juga pelaku lainnya yang mencakup berbagai kalangan. Di antara belasan tersangka, terdapat pula seorang ayah dan anak yang masih dalam penyelidikan.
“Bapak dan anak masih kita kembangkan, belum bisa disampaikan karena ada jaringannya sendiri nanti,” ungkap Devi. Dengan adanya jaringan pencurian motor yang begitu terstruktur, kasus ini menyoroti kompleksitas dunia kejahatan terorganisir yang semakin berkembang di berbagai kota besar seperti Makassar.
Baca Juga: Korban Erupsi Gunung Ruang Dapat Pasokan Air! SPAM Desa Modisi Dikembangkan, Cek Detailnya!
Fenomena ini membuka mata kita bahwa tindakan kriminal kadang bukan hanya soal niat, tapi juga soal kondisi. Banyak faktor, seperti tekanan ekonomi, biaya pendidikan yang tinggi, dan keterbatasan akses pada pekerjaan legal, bisa mendorong seseorang—terutama anak muda—untuk menempuh jalur yang salah.
Sementara banyak mahasiswa yang berhasil melalui kesulitan ini dengan cara yang legal, beberapa terjebak dalam pilihan sulit hingga akhirnya tergoda untuk terlibat dalam tindakan melanggar hukum.