kriminal

Aksi Anarkis di Tangerang Selatan, Posko Ormas Dibakar Akibat Sengketa Tanah

Rabu, 6 November 2024 | 20:33 WIB
Kerusuhan antara dua ormas di Tangsel akibat sengketa lahan berujung pada pembakaran posko ormas. Polisi mengimbau penyelesaian damai. #TangerangSelatan #BentrokOrmas #KeamananMasyarakat #BeritaTerki (Muhammad Aqil Azizi)

Sulawesitoday - Bentrok antar organisasi masyarakat (ormas) yang terjadi di Tangerang Selatan (Tangsel) pada malam 5 November 2024 telah memicu suasana mencekam di kawasan tersebut. Kejadian ini dipicu oleh sengketa lahan antara dua kelompok ormas yang berujung pada aksi pembakaran posko. Insiden ini terjadi di Perempatan Muncul, Setu, Tangsel, dan menimbulkan kekhawatiran warga di sekitar lokasi.

Menurut saksi mata, peristiwa itu terjadi setelah waktu Isya, ketika sekelompok orang yang diduga berjumlah sekitar 80 orang menyerbu salah satu posko ormas di sana. "Sekitar habis isya didatangi sekelompok orang sekitar 80 orang yang tiba-tiba melakukan pengerusakan Posko dan membakar Posko," ujar Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi, Kabid Humas Polda Metro Jaya. Kelompok penyerang hanya membutuhkan waktu lima menit untuk menghancurkan dan membakar posko tersebut, sebelum mereka segera meninggalkan tempat kejadian.

Baca Juga: Penyetoran Bandar Judi ke Komdigi: Money Changer Dijadikan Alat Cuci Uang?

Kapolres Tangerang Selatan, AKBP Viktor Inkiriwang, segera mengambil tindakan. Dia mengatakan bahwa pihaknya langsung menuju lokasi untuk memastikan situasi aman setelah mendapat laporan. “Personel dari Polsek Cisauk, Polres Tangsel, dan Polda Metro Jaya segera ke TKP untuk mengamankan lokasi dan melakukan olah TKP,” ujar Viktor dalam keterangannya kepada media.

Akar permasalahan ini, menurut AKP Agil Sahril, Kasi Humas Polres Tangsel, berasal dari sengketa penguasaan lahan di daerah Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. Kelompok A yang berselisih soal lahan tersebut dikatakan mengumpulkan anggotanya dan meminta bantuan dari kelompok lain. Ketika kelompok ini melintas di Perempatan Muncul, situasi panas seolah mencapai puncaknya. Penyerangan dan pembakaran pun terjadi.

Di tengah ketegangan ini, kepolisian meminta semua pihak untuk menahan diri dan mencari solusi yang damai. “Kami mengimbau kepada semua pihak untuk menahan diri. Apabila ada permasalahan atau perselisihan, hendaknya diselesaikan dengan musyawarah atau jalur hukum,” kata Agil. Polisi juga menegaskan bahwa tindakan anarkis hanya akan memperburuk situasi dan memperpanjang masalah.

Aksi kekerasan semacam ini jelas menimbulkan rasa tidak aman bagi masyarakat sekitar. Banyak warga sekitar yang khawatir akan keselamatan mereka, apalagi dengan adanya pembakaran posko, yang merupakan simbol kehadiran ormas di wilayah tersebut. Bagi penduduk, kejadian ini juga mengingatkan kembali pada dampak buruk sengketa yang tidak diselesaikan dengan bijak.

 

Tags

Terkini