kriminal

Operasi Plastik Ekstrem Berujung Tragis, Wanita Tewas Akibat Oplas Maraton Selama 24 Jam

Sabtu, 16 November 2024 | 20:36 WIB
Seorang wanita asal China ini tewas setelah 6 kali oplas dalam 24 jam. Keluarga menggugat klinik. Apakah bedah kecantikan terlalu berisiko? (Nur Rafiqa)

Sulawesitoday - Dalam dunia bedah kosmetik, ambisi untuk memperbaiki penampilan bisa berujung pada tragedi. Seorang wanita asal China, Liu, mengalami nasib tragis setelah melakukan enam prosedur operasi plastik hanya dalam waktu 24 jam. Kejadian ini terjadi pada Desember 2020, dan hingga hari ini, kasusnya masih menjadi perdebatan panas terkait etika klinik kecantikan di Tiongkok.

Liu, wanita asal Guigang, Provinsi Guangxi, datang ke sebuah klinik di Kota Nanning dengan satu tujuan: mengubah penampilannya secara drastis dalam waktu singkat. Untuk memenuhi biaya prosedur tersebut, Liu bahkan meminjam uang sebesar 40.000 yuan—sekitar Rp 87,3 juta. Keinginan untuk mendapatkan kelopak mata ganda yang ideal dan bentuk hidung yang diimpikan mendorongnya untuk melakukan bedah pertama yang berlangsung selama lima jam. Tapi, prosedur tidak berhenti di sana. Malam harinya, ia menjalani liposuksi di area paha, dan pada pagi berikutnya, lemak hasil liposuksi tersebut disuntikkan ke wajah dan payudaranya.

Baca Juga: Gratisan Mewah di Balik Ekspor Durian: Pj Bupati Parigi Moutong, Istri dan Pejabat Lainnya Diduga Terlibat Gratifikasi

Namun, impian Liu untuk tampil lebih cantik harus dibayar dengan nyawanya. Ketika hendak meninggalkan klinik pada 11 Desember, Liu tiba-tiba pingsan. Ia segera dilarikan ke Rumah Sakit Rakyat Nanning, tetapi nyawanya tak tertolong. Liu meninggal sore itu akibat gagal pernapasan akut yang disebabkan oleh emboli paru—komplikasi serius yang bisa terjadi setelah prosedur liposuksi.

Kasus ini langsung memicu gelombang kemarahan dan tuntutan dari keluarga Liu. Mereka menuding klinik sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kematian wanita berusia 34 tahun tersebut. "Tidak ada jumlah uang yang bisa mengembalikan ibu dari anak-anak kami," ujar suami Liu, yang menolak tawaran kompensasi awal sebesar 200.000 yuan (sekitar Rp 436 juta) yang diajukan oleh klinik. Suaminya menganggap angka tersebut tidak layak dibandingkan dengan hilangnya nyawa sang istri.

Baca Juga: Bantah Petani Durian di Parigi Moutong Terancam Bangkrut, Kepala Bapenda Yasir Beberkan Penjelasannya

Klinik tersebut membela diri dengan menyatakan bahwa mereka telah menjalankan semua prosedur sesuai standar. Izin operasional mereka sah, dan dokter yang menangani Liu pun berlisensi. Pihak klinik juga mengingatkan bahwa Liu seharusnya sudah menyadari risiko bedah kosmetik. Meski demikian, pihak keluarga Liu membawa masalah ini ke ranah hukum, menuntut kompensasi sebesar 1,2 juta yuan (sekitar Rp 2,6 miliar).

Pada Mei 2021, pengadilan memutuskan bahwa klinik bertanggung jawab atas kematian Liu dan memerintahkan pembayaran kompensasi lebih dari satu juta yuan. Namun, hasil ini tidak memuaskan semua pihak. Pada Agustus tahun berikutnya, setelah upaya banding oleh klinik, jumlah ganti rugi dikurangi menjadi 590.000 yuan (sekitar Rp 1,2 miliar), dengan catatan bahwa tanggung jawab dibagi setengah antara klinik dan Liu sendiri.

Baca Juga: Cak Imin Dimarahi Istri: Apa Gunanya Jadi Menteri Kalau Judol Nggak Bisa Diatasi?

Kasus Liu menggarisbawahi bahaya operasi kosmetik yang tidak diambil secara hati-hati. Banyak pihak mempertanyakan bagaimana bisa klinik mengizinkan begitu banyak prosedur dilakukan dalam waktu kurang dari 24 jam. Apakah faktor komersial mengalahkan kesehatan dan keselamatan pasien? Ini menimbulkan pertanyaan lebih luas tentang pengawasan dan regulasi klinik kecantikan di seluruh China, dan bahkan di dunia.

Kematian Liu adalah sebuah tragedi yang seharusnya menjadi peringatan keras bagi mereka yang ingin menjalani perubahan fisik secara cepat dan berlebihan. Memang, dunia bedah kosmetik menjanjikan perubahan penampilan yang instan, tetapi tidak ada yang bisa menjamin keselamatan sepenuhnya. Setiap prosedur memiliki risiko, dan mengabaikannya bisa berarti mempertaruhkan nyawa.

Baca Juga: Dari Anak Petani Hingga Miliarder, Kisah Inspiratif Pendiri Miniso dan Kekayaan Rp40 Triliunnya

Di sisi lain, kasus ini juga menunjukkan bahwa klinik kecantikan, tak peduli seberapa terkemuka atau berlisensinya mereka, perlu memprioritaskan keselamatan pasien di atas segalanya. Ini bukan hanya soal peraturan, tetapi tanggung jawab moral terhadap kehidupan manusia.

Tags

Terkini